2019, LRT Hadir di Palembang

kj_line_piPalembang- Pembangunan Light Rail Transit (LRT) sebagai salah satu solusi yang dipilih Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel. Untuk mengatasi adanya bayangan kemacetan yang luar biasa di Kota Palembang pada 2019 mendatang. Bukan hanya di jalan raya, keluar dari garasi sudah dihadapkan dengan kemacetan.

Gubernur Sumsel, Alex Noerdin mengatakan, kapasitas jalan-jalan utama sudah tidak mampu lagi menampung arus tranportasi harian yang pertumbuhnya mencapai 6 kali lipat. Sehingga, pada 2019 akan terjadi Grandlock. Untuk itu, diperlukan angkutan masal. Sebagai solusi mengatasi kemacetan tersebut.

“LRT untuk mengantisipaasi kemacetan. Kalau baru dilakukan 2019, itu sudah terlambat. Kalau tidak dilakukan sekarang, (Kota Palembang) kita akan macet total,” ungkapnya saat Diskusi Kupas Tuntas, Hotel Arista Palembang, Sabtu (4/6/2016).

Selain mengatasi kemacetan, Alex menambahkan, pembangunan LRT sebagai sarana penunjang penyelenggaraan Asian Games 2018 di Kota Palembang bersama DKI Jakarta. Sehingga, para atlit, official, pendukung, dan simpatisan dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, dapat memanfaatkan angkutan masal tersebut langsung ke Jakabaring Sport City (JSC).

“Untuk Asian Games, dari bandara akan langsung ke Jakabaring. (Di Jakabaring) disana sudah menunggu golf car. Jadi, tidak akan ada gangguan (kemacetan) sama sekali dari Airport (bandara) ke Jakabaring,” tegasnya.

Pembangunan LRT Kota Palembang menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 12,4 Triliun. Untuk segala keperluan yang dibutuhkan dalam mega proyek tersebut. Tanpa menggunakan satu sen pun ada dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumsel.

Teknologi yang diusung, menurut Gubernur, akan menggunakan yang paling modern. Bahkan, Presiden RI Joko Widodo memutuskan kereta listrik, dengan teknologi yang paling mutakhir dan paling modern.

“Seluruh bangunan fasilitas umum akan tertarik memperbaiki diri, lebih bagus. Dalam arti lain, LRT memberikan dampak luar biasa,” ujarnya.

Gubernur menambahkan, dalam 2 tahun pembangunan LRT merupakan masa yang amat sangat sulit. Bahkan, kurva S yang biasa digunakan dalam setiap proyek menunjukan tegak lurus, dengan tingkat kesulitannya sangat tinggi, meleset sedikit akan sangat terpengaruh.

Ternyata, dalam pengerjaan mega proyek LRT Kota Palembang juga menyebabkan berbagai kegaduhan. Mulai dari masyarakat, hingga melibatkan instansi seperti PDAM, PLN, Telkom dan sebagainya.

“Kami sempat ribet dengan pipa gas, pipa pdam, kabel listrik, kabel telkom. Jadi ribet ruwet. 2018 selesai, pada 1 Juni akan mulai full operation. Jadi, hampir 3 bulan sebelum Asian Games (LRT) sudah selesai,” tegasnya.

Semenjak dimulainya pembangunan LRT, kemacetan mulai dirasakan oleh masyarakat Kota Palembang. Sebagai dampak adanya penyempitan di sejumlah ruas jalan yang digunakan. Mulai dari Bandara SMB II Palembang sampai Jakabaring. “Bukan selama 2 tahun macet total. Untuk itu, saya (gubernur) minta maaf, karena macet itu pasti,” ujarnya.

LRT Kota Palembang yang saat ini tengah dikerjakan merupakan koridor pertama, dan akan dilanjutkan pembangunan koridor selanjutnya pada tahun-tahun mendatang.

“Sebenarnya, kita (Sumsel) memang tidak siap, kita (Sumsel) memang ketinggalan bila dibandingkan dengan Jakarta. Sarana pendukung, seperti parkir di sekitar stasiun sudah dipikirkan. Karena, kalau tidak berani ngambil keputusan, tidak akan pernah ada (LRT) di Palembang. Rencananya akan ada 4 koridor, 3 koridor selanjutnya setelah selesai koridor ini. 3 koridor selanjutnya tanggung jawab Gubernur yang akan datang. Untuk itu, saya memerlukan dukungan penuh masyarakat,” tambahnya.

Pengamat Ekonomi Universitas Sriwijaya, Prof Didik Susetyo membenarkan apa yang disampaikan oleh Gubernur Sumsel. Apabila, Ada kajian yang menunjukan pada 2019 akan Grand Lock alias macet total di Kota Palembang. “Kalau semua pertumbuhan kendaraan dibiarkan dan jumlah atau luasan jalan tidak bertambah,” ungkapnya.

Menurutnya, pembangunan LRT akan mendorong perekonomian, pembangunan daerah dan pertumbuhan kawasan perkotaan dan honterland.

“Jadi, lrt harus difungsikan secara maksimal. Sebagai moda transportasi masa yang menjembatani konektivitas kawasan. Menjadi layanan publik dengan tarif uang yang seharusnya murah dan mudah,” pintanya.

Pakar Transportasi Universitas Trisakti, Dr Yayat Supriatna menjelaskan, pembangunan LRT di Kota Palembang akan memberikan dampak tersendiri bagi masyarakat Palembang. Dengan adanya pembangunan struktur, maka akan membangun kultur dengan sendirinya.

“Ini akan mengubah cara pandang masyarakat dengan sesuatu yang baru,” terangnya.

Salah satu contoh, adanya kemacetan yang muncul imbas dari pembangunan LRT. Masyarakat Kota Palembang telah berupaya menghindari kemacetan dengan mencari jalan-jalan alternatif menuju tujuannya.

Menurutnya, apabila orang dihadapkan dengan angkutan umum yang ada saat ini seperti bus dan angkot. Maka, orang-orang tidak akan tertarik naik angkutan umum, dan memilih menggunakan tranportasi ojek online. Seharusnya, LRT akan lebih memanusiakan masyarakat. Sehingga mendapatkan pelayanan yang maksimal.

“Sturktu kultur dan proses, pembangunan itu pasti menjadi budaya baru,” paparnya.

Kota Palembang merupakan kota pertama di Indonesia mengoperasikan LRT, yang bisa menjadi percepatan pembangunan. Karena, adanya kekuatan anggaran akan mempercepat pembangunan.

“Masalahnya, sesudah LRT dibangun, apakah masyarakat mempunyai budaya tertib. Kalau tanpa disiplin akan agak berat juga,” ungkapnya.

Sebagai Pakar Transportasi, Dr Yayat Supriatna tidak memungkiri, apabila ada protes dalam proses pembangunan LRT. Karena, apa yang disampaikan pemerintah dan masyarakat tidak sepenuhnya benar.

Dia mencontohkan, ketika comuter line di Jakarta mengubah prilaku umum masyarakat. Ketika LRT Kota Palembang menggunakan tiket atau kartu. Bagaimana prilaku akan mengikuti sistem didalamnya. Sekarang, di Jakarta dalam 1 tahun penumpang comuter line mencapai 450 ribu orang-900 ribu orang.

“Yang paling penting itu kepastian. Bagaimana mengelola, LRT harus bisa membuat orang tertib. Karena apa, kalau buruk sistemnya, akan buruk juga penumpangnya,” tegasnya.

Menurutnya, adanya LRT di Kota Palembang akan menjadi City branding, akan menjadi kekuatan yang menambah daya tarik Palembang. Karena, sebagai satu-satunya kota yang menggunakan LRT hanya di Palembang. “Orang-orang mau seminar aman dipalembang, tidak akan macet. Inikan menjadi kebanggaan warga palemabnag, dan bisa menjadi ikon baru,” paparnya.

Untuk itu, diperlukan adanya sinergi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang. Untuk melakukan reformasi transportasi. Mengenai sinergi tata ruang transportasi. Karena, akan ada TOD tranportasi masal, atau diberikan semacam insentif pendirian bangunan. Di beberapa simpul yang dilewati, untuk segera dibuat peraturan oleh Pemda.

“Palembang akan menjadi kota ramah pejalan kaki. Karena harus ada ruang pejalan kaki. Duitnya dari bentuk insentif,” ujarnya.

“Selamat datang LRT, selamat datang perubahan,” tambahnya.

Psikolog Sosial, Reni Permataria mengatakan, dirinya mempertanyakan mengenai kesiapan psikologi masyarakat Kota Palembang. Untuk bersama-sama dapat menjaga dan memelihara angkutan masal ini.

“Budaya masyarakat kita (Palembang) apakah akan siap. Karena, mereka akan lebih memilih gojek (ojek online) dibandingkan angkutan umum (bus kota/angkot) yang kurang nyaman. Adanya LRT, akan sangat aman membantu. Jangan ada banyak coretan disana (LRT). Sehingga, diperlukan pembelajaran, dan sosialisasi menjelang LRT dilaunching,” paparnya.

Melihat sarana transportasi masa LRT Kota Palembang, yang sangat nyaman dengan fasilitas yang cukup nyaman. Akan memberikan tekanan psikologis tersendiri bagi masyarakat dengan perekonomian menengah kebawah. Pemerintah, sudah sepatutnya memperhatikan hal tersebut. “Bagi masyarakat menengah kebawah, pasti ada keengganan naik kesana,” terangnya.(red/wan)

 

Artikel Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *