Tidak Efisien, Rusunami Kurang Di Minati Pengembang Swasta

Tidak Efisien, Rusunami Kurang Di Minati Pengembang Swasta

Harianekonomi.com – Bagi seorang pengembang properti memilih mengembangkan properti dengan harga terjangkau menjadi daya tarik sendiri, terlebih bagi para pengembang swasta yang saat ini sedang marak-maraknya melakukan pengembangan beberapa properti di JABODETABEK.

Pengembangan properti untuk jenis hunian vertikal menjadi target mereka untuk membuka bisnis dengan potensi keuntungan yang lebih stabil. Rusunami bukan salah satu hunian yang banyak diminati oleh para pengembang swasta, bukti nyata bahwa rusunami tidak banyak diminati oleh pengembang sudah terlihat hampir dari 8 tahun ini.

Walaupun lebih terbilang murah, namun beberapa faktor dan alasan tertentu membuat para pengembang properti merasa enggan untuk membangun Rusunami. Hunian jenis vertikal ini sebenarnya banyak mendapatkan respon baik dari kebanyakan orang, namun ada beberapa alasan yang membuat para pengembang ragu untuk memndirikan bangunan hunian seperti Rusunami.

Hambatan pertama yang membuat para pengembang properti enggan untuk membangun rusunami adalah mengenai Pajak Pertambahan Nilai oleh pemerintah sama sekali tidak ditanggung, PPN sebesar 10% yang sudah menjadi ketetapan dari setiap jenis properti ternyata hanya untuk beberapa jenis properti seperti rumah tapak, sehingga sangat tidak memungkinkan bahwa pengembang swasta yang mempunyai jenis hunian seperti rusunami untuk masalah PPN akan di tanggung oleh pemrintah, padahal untuk harga Plafon yang sudah di terapkan sendiri sudah standar dari pemerintah. Hal semacam ini menjadi hambatan serta faktor yang banyak membuat pengembang swasta harus berpikir dua kali.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa seharusnya untuk masalah PPN juga di samaratakan dengan rumah tipe tapak. Bila tidak seperti itu harga dari keduanya juga harus di bedakan. Untuk saat ini harga standar dari rumah rusunami mengikuti harga plafon yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Walaupun semakin hari jenis hunian properti mengalami peningkatan harga, tetapi pajak yang diberikan juga sama besarnya, Sehingga keuntungan dari pengembang sama sekali tidak sesuai dengan target.

Hambatan yang kedua terletak dari pembaharuan setiap hunian, perbedaan ini menjadikan pengembang lebih memilih untuk membangun rumah tapak, terlihat dari segi harga sendiri untuk rumah jenis tapak sederhana otomatis setiap tahunnya akan naik untuk harganya sendiri. jelas-jelas bahwa pembangunan jenis rumah tapak jauh lebih cepat dibandingkan dengan jenis rumah rusunami yang bisa mencapai 2 tahunan, sedangkan untuk jenis rumah tapak hanya sekitar 2-4 bulanan saja. Disisi lain untuk masalah biaya pembangunan sendiri, jenis rumah Tapak sebenarnya jauh lebih murah dibandingkan dengan jenis hunian Rusunami.

“Oleh Karena membangun rusunami itu jauh lebih lama, seharusnya pemerintah memperhitungkan kembali nilai Interest During Construction ( IDC ) ” Kata direktur Utama Synthesis Development, Budi Yanto Yusli. Dia juga menambahkan bahwa setiap pembangunan rusunami, setiap pengembang juga mempertimbangkan pembaharuan untuk setiap tahunnya, hal ini tentu saja juga membutuhkan biaya tambahan yang cukup besar, terlebih untuk PPN tidak ditanggung pemerintah, dan pemerintah juga menerapkan harga plafon standar. Tentu saja pengembang swasta mejadi lebih ragu untuk memilih Rusunami. Padahal untuk tingkat efektifnya jauh lebih efektif Rusunami di bandingkan jenis hunian Tapak, selain hemat lahan. Rusunami juga tidak terlalu banyak memakan tempat.

Tidak Efisien karena harga yang diberikan tidak sesuai dengan kesepakatan dan kelayakan huni. Terlebih untuk saat ini hunian di kota-kota besar sudah sangatlah penuh dan menimbulkan dampak seperti kemancetan yang parah, solusi utamanya tentu saja dengan membangun hunian Vertikal, namun seharusnya pemerintah juga memperhatikan masalah kelayakan dan juga harga yang diterapkan. Hal ini juga dirasakan oleh pengembang Pelat Merah, Perumnas. Banyak dorongan dari pengembang untuk pemerintah agar lebih memperhatikan hunian rusunami di kota-kota besar.

Related posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *