• Indonesia
5 Hal yang Diperhatikan untuk Menentukan Level PPKM
Artikel

5 Hal yang Diperhatikan untuk Menentukan Level PPKM

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah dimulai sejak bulan Juli 2021. Saat itu PPKM dimulai dengan PPKM Darurat, di mana pandemi Covid-19 dengan varian Delta sedang mengalami puncaknya di Indonesia. Dua minggu setelah itu, Luhut Binsar Panjaitan sebagai coordinator PPKM mengubahnya menjadi beberapa level. Luhut dan semua pejabat terkait menentukan level PPKM dengan beberapa indikator.

5 Hal yang Diperhatikan dalam menentukan Level PPKM

Level PPKM ditentukan dengan indikator tersendiri. Makin tinggi level, artinya suatu daerah mengalami masalah dalam pengendalian pandemi Covid-19. Angka positif harian dan kematiannya tinggi.

Masyarakat mungkin bertanya, kapan aktivitas dapat dimulai? Jawabannya sesuai level PPKM yang ditentuan pemerintah.

Setidaknya ada 5 hal yang diperhatikan untuk menentukan level PPKM:

1. Kasus positif harian

Data perkembangan kasus Covid-19 Indonesia yang dilaporkan oleh Satgas Covid19 mengonfirmasi terjadinya pertambahan kasus positif Covid19 hingga Minggu (8 Agustus 2021) 26.415 kasus. Jumlah kasus ini menurun dibandingkan Sabtu sebelumnya (7 Agustus 2021), dan jumlah kasus positif Covid19 mencapai 31.753.

Jika ditambah, persentase kasus positif di Indonesia sejauh ini sudah melebihi 3.666.031 kasus. Di sisi lain, jumlah infeksi harian Covid-19 tertinggi setiap hari Minggu (8 Agustus 2021) berada di wilayah Jawa Tengah, dengan jumlah maksimal 4.693 orang.

Jika suatu daerah angka positif hariannya sudah terindikasi menurun, levelnya akan menurun. Seperti wilayah Jabodetabek yang semula PPKM Level 4, sejak 23 Agustus sudah memasuki Level 3, di mana banyak aktivitas sudah mulai dilonggarkan.

2. BOR

BOR dalam bahasa awam dikenal sebagai keterisian tempat tidur.

BOR yang disarankan WHO dalam menangani Covid-19 tidak boleh lebih dari 70%. Ini artinya ada 30% yang masih kosong dan dapat menerima pasien baru kapan saja.

Saat pandemic memuncak di bulan Juli lalu, rumah sakit di Pulau Jawa keterisiannya hampir 100%. Banyak rumah sakit menolak pasien karena penuh. Sementara lainnya membangun tenda-tenda darurat di halaman.

3. Progress Vaksinasi

Progres vaksinasi menjadi hal yang diukur pula dalam menentukan level PPKM. Itu sebabnya pemerintah terus mensukseskan Program Vaksinasi Covid-19. Angka yang ideal hingga mencapai 70 persen dari jumlah penduduk yang bisa divaksinasi.

Dengan target tersebut, diharapkan herd immunity terbentu. Pandemi Covid-19 sudah mulai dapat dikendalikan. Beberapa sektor publik bisa dibukan kembali, seperti sekolah, pasar, dan tempat-tempat makan. Tentunya dengan protocol kesehatan ketat.

4. Angka Kematian

Angka kematian menjadi penentu level PPKM selanjutnya.

Angka ini biasanya berbanding lurus dengan angka postif Covid harian.

Pada masa penerapan PPKM Darurat hingga kini, angka kematian karena Covid-19 di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara dan termasuk 5 besar di seluruh dunia.

Angka kematian diyakini akan menurun jika masyarakat menaati protocol kesehatan dan lebiih dari 50 persen sudah divaksinasi.

5. Permintaan Pelaku Usaha

Terakhir, permintaan pelaku usaha juga menentukan level berapa PPKM di suatu wilayah, Mengapa ini diperhatikan? Karena kasus yang tinggi dan pembatasan gerakan mengakibatkan banyak usaha mengalami kesulitan. Otomatis, ekonomi dapat menurun karenanya.

Jadi, jika keempat indikator sebelumnya sudah terpenuhi dan pelaku usaha meminta, maka level PPKM mungkin saja turun. Dengan catatan, semua dilakukan sesuai aturan.

Itulah 5 hal yang diperhatikan untuk menentukan level PPKM. Semoga dengan adanya PPKM, angka kematian akibat covid 19 bisa ditekan dan segera menurun. Tetap jaga kesehatan dan jangan kendor ya! Selalu waspada dan jaga kesehatan Anda dengan baik.

You can share this post!

Comments