• Indonesia
5 Penyebab Negara Bisa Mengalami Resesi Ekonomi Wajib Anda Ketahui!
Artikel

5 Penyebab Negara Bisa Mengalami Resesi Ekonomi Wajib Anda Ketahui!

Seperti yang diketahui, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuarta III 2020 Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi mnus mencapai 3,49 persen. Hal itu tentu saja membuat Indonesia mengalami resesi ekonomi.

Sebelumnya, Indonesia pernah mengalami hal yang sama selama enam bulan pada tahun 1997 dan terus berlanjut pada bulan Januari tahun 1998. Lalu, apa saja yang memicu negara resesi? Hal tersebut akan dibahas sedikit dalam artikel berikut.

Penyebab Negara Indonesia Dapat Mengalami Resesi Ekonomi

Resesi dapat terjadi saat seluruh permintaan menjadi melemah dan tingkat pertumbuhan output mengalami kemerosotan. Tentunya secara teknis, kondisi demikian dapat terjadi saat perekonomian mengalami beberapa gejala selama lebih dari dua kuartal fiskal disertai dengan perlambatan lapangan pekerjaan.

Berikut 6 pemicu resesi ekonomi yang dapat diketahui dan menjadi alarm jika ciri-cirinya sudah jelas terlihat.

1. Guncangan Ekonomi Secara Tiba-Tiba

Kejadian maupun musibah tertentu yang berdampak luas baik secara global maupun nasional dapat memicu guncangan ekonomi. Hal tersebut dapat memicu kerusakan finansial secara serius.

Pada tahun 1997, guncangan terjadi karena masalah global. Pada tahun 2020, salah satu penyebab guncangan adalah pandemi Covid-19. Ketakutan adanya paparan virus tersebut membuat kegiatan ekonomi di Indonesia mengalami kelumpuhan.

Banyak orang yang merasa was-was dan takut untuk keluar rumah dan pemerintah juga mengeluarkan kebijakan mengenai pembatasan sosial skala besar. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi lonjakan sebaran virus.

Dampak dari ‘di rumah saja’ memukul berbagai sektor ekonomi secara signifikan.

2. Utang Piutang Secara Berlebihan

Faktor kedua ini dapat terjadi pada individu maupun sebuah bisnis yang tidak mampu membayar tagihan hutan. Tentunya, peningkatan default utang dan bangkrut dapat membuat guncangan ekonomi.

Tidak hanya individu, negara yang mempunyai utang secara berlebihan akan menanggung bunga yang terus membesar. Hal ini juga dapat menyebab terjadinya resesi ekonomi.

3. Penggelembungan Aset

Saat ini keputusan perihal investasi medapatkan dorongan secara emosi dari investor. Investor mendorong pasar secara emosi melakukan pembelian ataupenjualan secara berlebihan.

Hal tersebut dapat membuat keputusan menjadi terlalu optimis yang memicu munculnya penggelembungan pasar saham maupun real estate. Apabila hal tersebut terjadi tentunya dapat memicu panic selling yang dapat merusak pasar dan memicu resesi.

4. Inflasi maupun Deflasi Terus-Menerus

Inflasi merupakan trend harga stabil dan naik dari waktu ke waktu dalam kurun periode tertentu. Sebenarnya, hal tersebut bukan hal buruk namun inflasi secara berlebihan dapat membuat daya beli tergerus dan konsumsi membuat salah satu penggerak ekonomi mengalami pelemahan.

Sebaliknya, deflasi yang terus menerus akan membuat konsumen membeli produk besar-besaran. Akibatnya, produk mungkin mengalami peningkatan harga secara signifikan karena terus diburu karena jumlahnya sangat terbatas.

Di sisi lain, deflasi akan membuat pasar jenuh dan ekonomi melemah.

5. Perubahan Teknologi

Deflasi dapat memicu adanya resesi karena penurunan harga dari waktu ke waktu secara terus-menerus. Hal ini dapat memicu penyusutan upah. Selain itu, perubahan teknologi signifikan dapat membuat resesi dengan tergantikannya pekerjaan sebelumnya dengan penerapan teknologi lebih maju.

Akibatnya tidak dapat dibayangkan sebelumnya. Banyak angkatan kerja menjadi pengangguran dan akhirnya daya beli menurun. Ini seperti sebuah circle yang saling berkaitan satu sama lain, antara penyebab pertama dengan lainnya.

Itulah 5 penyebab resesi ekonomi yang sangat mungkin terjadi pada negara mana pun. Indonesia sendiri pernah mengalaminya beberapa kali sejak kemerdekaan. Yang terakhir, resesi di tahun 1997. Sementara masih ada perdebatan tentang resesi yang terjadi di tahun 2020 saat pandemic Covid-19 menyerang hampir seluruh dunia.

You can share this post!

Comments