Morgan Stanley: Minyak Diprediksi Merosot Ke 20 Dolar Per Barel

minyakAwal tahun yang buruk bagi komoditas minyak terus berlanjut. Menjelang rilis data perminyakan AS dari American Petroleum Institute (API) dan Departemen Energi AS, keprihatinan akan oversupply dan proyeksi penurunan permintaan kian menyeret jatuh harga komoditas ini

Pada sesi Asia hari ini (12/1), harga minyak mentah WTI di NYMEX untuk pengiriman Februari ambrol 0.24 persen ke 31.30 USD per barel, level terendah dalam 12 tahun terakhir. Sementara di Intercontinental Exchange (ICE), minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret merosot 5.98 persen ke 31.88 USD per barel setelah sempat menyentuh 31.48 USD.

Hari Senin kemarin, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, mengatakan bahwa meskipun belum ada tanggal yang pasti kapan sanksi ekonomi atas Iran akan dicabut, tetapi sebuah keputusan akan segera dikeluarkan. Banyak pihak telah memperkirakan Iran akan menaikkan besaran ekspornya sebanyak 500,000 barel per hari begitu sanksi dicabut, sehingga dianggap bearish bagi minyak.

Sementara itu, analis dari Morgan Stanley mempublikasikan laporan yang menyebutkan kemungkinan minyak mencapai harga 20 USD per barel. Pertumbuhan pesat ekonomi China telah menopang permintaan minyak dalam satu dekade terakhir, sehingga perlambatan di wilayah tersebut memunculkan kekhawatiran akan menurunnya konsumsi minyak. Meskipun upaya pemerintahnya untuk melemahkan nilai tukar Yuan bisa menanggulangi perlambatan ekspor China, tetapi itu akan membuat impor minyak dan komoditas lainnya yang harus dibayar dengan Dolar jadi lebih mahal, dan karenanya akan makin memukul permintaan.

Bank-bank multinasional seperti Goldman Sachs, Citigroup, dan Bank of America Merrill Lynch juga telah memprediksi kalau harga minyak mentah bisa jatuh ke 20 USD, tetapi untuk alasan berbeda. Beberapa khawatir kalau tanki penyimpanan di AS akan penuh dan kelebihan persediaan akan memaksa minyak merosot. Sedangkan Societe Generale memangkas estimasi harga minyaknya dengan basis kebangktan kembali produksi Iran serta output produksi minyak AS yang tahan banting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *