• Indonesia
Apakah Perang Dagang Akan Segera Berakhir?
Perdagangan

Apakah Perang Dagang Akan Segera Berakhir?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (Amerika Serikat) mengakhiri perdagangan pasar spot dengan penguatan. Padahal, rupiah nyaris sepanjang hari berkubang di zona merah. Pada kemarin, Selasa (13/11), 1 dolar AS di pasar spot ditutup di Rp 14.805.

Rupiah menguat tipis 0,03 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Meski hanya menguat tipis, rupiah patut diacungi jempol. Sebab sejak pembukaan pasar, rupiah terus nelangsa karena terjebak di jalur merah. Mengawali hari kemarin, rupiah melemah 0,17 persen.

Depresiasi rupiah kemudian semakin dalma, sempat menyentuh 0.81 persen. Tapi jelang tengah hari, mulai ada tanda-tanda perbaikan. Pelemahan rupiah berkurang drastis dan terus menipis seiring perjalanan pasar. Bahkan jelang penutupan pasar rupiah mampu berbalik menguat.

Hingga akhirnya kala enutupan pasar rupiah bertahan di zona hijau. Rupiah kini boleh berbangga karena bisa berdiri sejajar dengan mayoritas mata uang Asia yang juga menguat di hadapan dolar AS. Baht Thailand masih menjadi raja mata uang Asia disusul oleh won Korea Selatan.

Hanya yen Jepang dan ringgit Malaysia yang masih tertinggal di zona merah. Melihat dolar AS dan yen yang melemah, ini pertanda pelaku pasar sedang tidak bermain aman. Risk appetite tengah tinggi dan investor memburu aset-aset berisiko di negara berkembang.

Semua ini karena angin segar yang datang dari China sangat ampu membuat gairah pasar kembali membuncah. Diawali dengan pidato Perdana Menteri China, Li Keqiang, di KTT ASEAN di Singapura. Ia menegaskan Beijing bersedia untuk berdiskusi dengan negara-negara Asia Tenggara mengenai isu perbatasan Laut China Selatan.

Pedoman mengenai Laut China Selatan diharapkan selesai dalam tiga tahun. Tidak hanya itu, Li juga menagetkan perundingan pembentukan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) akan rampung tahun depan. Dengan penyelsaian isu Laut China Selatan plus kelahiran RCEP, maka arus perdagangan ASEAN-China diharapkan semakin lancar.

Indonesia pun akan menikmati berkahnya karena bisa meningkatkan kinerja ekspor. "Kami tidak mencari hegemoni atau ekspansi. Kami akan terus melakukan reformasi karena tidak ada pemenang dalam perang dagang," kata Li seperti dikutip dari Reuters.

Kemudian disambung rencana kunjungan Wakil PM China ke Washington. South China Morning Post melaporkan kedatangannya adalah untuk mematangkan rencana dialog Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, di sela-sela KTT G20 akhir bulan ini.

Dukungan pun mengalir deras ke China. Heiko Maas, Menteri Luar Negeri Jerman, menyatakan sepakat dengan China bahwa perang dagang harus diakhiri. "Jika perang dagang berlanjut, maka semua pihak akan menderita," ujarnya.

Pelaku pasar menaruh harapan besar kepada pertemuan Washington-Beijing. Bahkan doa investor adalah hasil pembicaraan ini begitu positif hingga membaut Trump dan Xi mencabut seluruh bea masuk yang sudah diterapkan. Jika itu terjadi, maka perang dagang resmi berakhir.

You can share this post!

Comments