• Indonesia
Bernarkah Sentimern IHSG Hanya Sementara?
Perdagangan

Bernarkah Sentimern IHSG Hanya Sementara?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir dari penguatannya dan berakhir di teritori negatif pada perdagangan hari ini, Jumat (15/2). IHSG ditutup melemah 0,48 persen atau 30,93 poin di level 6.389,08 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan kemarin, Kamis (14/2), IHSG berakhir di level 6.420,02 dengan kenaikan tipis 0,01 persen atau 0,90 poin. Padahal setelah dibuka menguat 0,09 persen atau 5,80 poin di level 6.425,82 pagi tadi, IHSG sempat melanjutkan kenaikannya menyentuh kisaran level 6.430.

Bahkan sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.374,90 sampai 6.433,68. Delapan dari sembilan faktor dalam IHSG berakhir di teritori negatif, dipimpin sektor tambang dan properti yang masing-masing turun 1,38 persen dan 1,35 persen.

Satu-satunya yang mampu berakhir di zona hijau adalah sektor infrastruktur dengan kenaikan 0,62 persen. Dari 627 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 130 saham menguat, 283 saham melemah dan 213 saham stagnan.

Saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang masing-masing turun 1,86 persen dan 1,79 persen menadi penekan utama atas pelemahan IHSG pada akhir perdagangan. Di sisi lain, saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dan PT Bank Permata Tbk. (BNLI) yang masing-masing naik 1,34 persen dan 12,00 persen menjadi pendorong sekaligus membatas besarnya pelemahan IHSG.

Aksi jual bersih oleh investor asing terus berlanjut pada perdagangan hari keenam berturut-turut. Berdasarkan data BEI, investor asing membukukan net sell sebesar Rp 186,76 miliar pada perdagangan hari ini.

Pergerakan pada perdagangan hari ini di antaranya dipengaruhi oleh rilis data neraca perdagangan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit 1,16 miliar dolar AS pada Januari 2019.

Dari data BPS, defisit bulan Januari merupakan defisit bulanan terburuk sepanjang masa. Defisit ini dipicu oleh penurunan di sisi ekspor migas dan non migas akibat kondisi ekonomi global yang melambat, perang dagang dan penurunan harga komoditas.

Rentetan defisit ini telah dimulai sejak tahun lalu. Sepanjang 2018, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan per bulan yang nilainya rata-rata hampir di atas 1 miliar dolar AS. Sentimen defisit neraca perdagangan terhadap perlemahan IHSG bersifat sementara.

Pelemhahan IHSG dipicu oleh berbagai faktor, tidak hanya neraca perdagangan, "Saya rasa domestik positif semua, ini sentimen sementara saja," teagas Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komsioner Otorotias Jasa Keuangan (OJK).

Faktor lain yang juga memengaruhi pergerakan pasar hari ini datang dari pemberitaan yang kurang baik mengenaik pertemuan AS (Amerika Serikat) dan China. Kedua belah pihak dikabarkan gagal mempersempit jarak dalam hal reformasi struktural ekonomi yang diminta AS.

You can share this post!

Comments