• Indonesia
BI Ingin Membuat Instrumen Swap Lebih Menarik
Keuangan

BI Ingin Membuat Instrumen Swap Lebih Menarik

Dalam jangka pendek, Dody Budi Waluyo, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), bilang bahwa bank sentral terus melakukan stabilisasi kurs rupiah, yaitu melalui intervensi pasar di valas dan Surat Berharga Negara (SBN), serta kenaikan suku bunga secara terukur. "Langkah stabilisasi tersebut didukung pula penguatan operasi moneter BI, seperti membuat instrumen swap lebih menarik," katanya.

Sementara di jangka panjang, BI akan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memperkecil defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD). "Hal itu akan membantu menciptakan kestabilan fundamental rupiah," tambahnya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini mencapai Rp. 14.655, melemah dibandingkan hari sebelumnya sebesar Rp 14.643 per dolar AS. Selamat satu pekan terakhir, laju rupiah tercatat masih memprihatinkan berada pada level Rp 14.500 sampai Rp 14.600 per dolar AS.

Chief Risk Officer Akseleran, Elquino Simanjutak, mengatakan, pergerakan mata uang rupiah yang terus berada dalam pelemahan karena mayoritas dipengaruhi oleh pasar. Sedangkan apa yang dilakukan pemerintah sjeauh ini dengan menetapkan rupiah secara kekuatan fundamental ekonomi di level Rp 13.400 pada tahun ini sudah di jalur yang benar.

"Pemerintah sudah on the right track. Meski demikian, tetap mengikuti mekanisme pasar. Dengan kondisi seperti ini, ada baiknya pemerintah tetap ada di pasar, memperhatikan pasar dan BI juga terus mengintervensi pasar agar menjaga pelemahan rupiah tidak semakin merosot," ujar Elquino.

Dia mengungkapkan, pergerakan nilai tukar dolar AS ke rupiah yang begitu cepat juga dipengaruhi oleh aspek kemanusiaan pelaku transaksi. Menurutnya, mata uang adalah salah satu bentuk investasi. Investor akan selalu berupaya mencari laha sehingga dalam transaksi mata uang sama seperti transaksi harga komoditas.

Maka yang dicari investor adalah fluktuasi atau votalitas (VIX) karena apabila terjadi demikian, mereka bisa mendapatkan laba dengan memasang posisi.  Walaupun investor sekarang ini telah banyak menggunakan data untuk pengambilan keputusan, tetapi profesional sekalipun akan menggunakan insting dalam penentuan pemasangan posisi.

"Insting inilah yang didasari emosi manusia yang dipengaruhi ekspetasi atau historis. Insting trader inilah yang mendorong tinggi atau rendahnya volatilitas pada saat mereka melihat data fundamental ekonomi. Kondisi ini terlihat dari perbandingan antara pergerakan nilai tukar dolar AS ke rupiha dibandingkan dengan pergerakan nilai tukar euro ke rupiah ataupun yen ke rupiah," jelas Elquino.

Ke depannya, ia berharap pemerintah dan BI terus mendorong perkembangan industri kreatif, pariwisata dan ekonomi. Tujuannya agar selalu tercipta kemampuan menghasilkan devisa yang lebih baik dari sekarang ini. Di mana inflow devisa harus tetap lebih besar dari outlow devisa. Di sisi lain, pelemahan rupiah tidak mempengaruhi mobilitas pertumbuhan bisnis Akeselerean yang mayoritas inputnya domestik.

Elquino berpendapat, untuk pelaku usaha yang seluruh biaya usahanya termasuk biaya produksinya menggunakan rupiah apabila dia menjualnya secara ekspor maupun domestik akan menguntungkan. Akan tetapi, jika biaya usaha dan produksinya ada komponen mata uang asing dengan laju rupiah yang masih bergejolak terlalu lebar akan menajdi ancaman serius karena memakan laba.

You can share this post!

Comments