• Indonesia
Bisnis Asuransi Suretyship, Jalankan Produknya dengan Ketat dan Kehati-hatian
Asuransi

Bisnis Asuransi Suretyship, Jalankan Produknya dengan Ketat dan Kehati-hatian

Sebagian proyek yang kembali berjalan setelah sempat terhenti ketika awal pandemi covid-19 di tahun berikutnya sudah nampak memberikan stimulus positif pada lini bisnis asuransi suretyship di tahun ini. Hanya saja, sebagian pemain yang memasarkan produk tersebut senantiasa berjaga-jaga sebab risiko yang besar.

Peluang Bagus Bisnis Asuransi Suretyship untuk Proyek Pembangunan

Bila memandang informasi Asosiasi Asuransi Universal Indonesia (AAUI), lini bisnis suretyship hadapi perkembangan premi sampai kuartal I kemarin. Tercatat, kenaikan preminya menggapai 47,5% ataupun sebesar Rp512,64 miliyar.

Direktur Eksekutif AAUI Doddy AS Dalimunthe mengatakan perkembangan tersebut utamanya dilandasi oleh amar putusan MK yang mengatakan kalau POJK 69/2016 sudah benar mendefinisikan suretyship selaku salah satu produk asuransi sehingga industri asuransi ditentukan senantiasa bisa menerbitkan suretyship.

Doddy menambahkan bahwa keadaan ini adalah angin yang bagus untuk bisnis suretyship di lini asuransi universal. Sejak saat itu, keyakinan kontraktor dan pemilik proyek mulai tumbuh dan berkembang serta mulai banyak muncul permintaan akan penerbitan suretyship.

Perihal tersebut juga akan ditambah dengan dorongan dari mulai berjalannya sebagian proyek yang saat pandemi covid merebak di tahun 2020 kemudian pernah berhenti. Oleh sebab itu, Doddy optimis kalau bisnis suretyship ini masih akan berkembang sepanjang tahun ini.

Jalan lain bagi pemilik proyek untuk meminta penjaminan dari kontraktor adalah Bank Garansi dan Suretyship. Selain itu Suretyship juga memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan bank garansi.

Menurut Dody, perusahaan-perusahaan asuransi dan penjaminan harus memastikan pencairan jaminan berjalan dengan baik, supaya keyakinan terhadap produk suretyship terus bertambah. Perihal tersebut jadi kunci untuk menguatkan persaingan dengan bank garansi.

Secara universal, memang perusahaan-perusahaan asuransi dan penjaminan sudah mempunyai kapasitas yang lumayan dalam melakukan suretybond. Tetapi, dalam keperluan tertentu, dibutuhkan kapasitas risiko yang besar sehingga dibangun konsorsium suretyship.

Dody menjelaskan kalau proyek-proyek pemerintah umumnya sudah mempunyai syarat tertentu, mana yang memakai bank garansi serta mana suretyship. Ada pula, dari sisi kontraktor (principal), umumnya lebih cenderung memilah produk suretyship.

Lantaran dalam proses suretyship ini lebih mudah dan cepat. Kalau di bank garansi itu lebih seperti kredit di bank. Hanya saja, Doddy menegaskan kalau terdapat tantangan risiko yang besar dari bisnis produk asuransi suretyship ini.

Dia kembali menegaskan bahwa industri asuransi butuh menekuni kembali kontrak proyek antara pemilik proyek dengan kontraktor untuk memperoleh kejelasan tentang tipe suretyship yang pas terhadap kontrak tersebut.

Doddy berpendapat bahwa memang dibutuhkan proses Analisa underwriting yang proper, menyeluruh dan komprehensif saat sebelum menerbitkan suretyship.

Salah satu industri asuransi yang memperoleh izin untuk menjual produk adalah PT Asuransi Wahana Tata (Aswata). Industri ini mengakui kalau bisnis asuransi suretyship hadapi perkembangan premi sampai Mei 2021 yang menggapai 30% yoy jadi Rp4 miliyar.

Presiden Direktur Aswata Christian Wirawan Wanandi Adanya perkembangan ini, menghadirkan peluang bisnis yang lumayan besar. Hanya saja, memang fokus pihaknya tidak di bisnis suretyship sehingga kontribusinya sangat kecil.

Aswata sendiri tahun ini menargetkan terdapat perkembangan 10% dari total pemasukan premi suretyship tahun kemudian yang menggapai Rp6 miliyar. Christian optimis sebab terdapat sebagian prospek bisnis asuransi suretyship yang saat ini tengah bertumbuh.

Perkembangan signifikan pada premi suretyship pula dirasakan oleh PT Asuransi Cakrawala Perlindungan Indonesia (ACPI) yang menggapai 58% yoy pada Mei 2021.


Wakil Direktur ACPI Nicolaus Prawiro mengatakan sampai Mei 2021 ini, premi suretyship di ACPI telah menggapai Rp2,5 miliyar ataupun setara 0,5% dari total premi. Nico mengaku jika pihaknya sangat ekstra hati-hati dan ketat dalam akseptasi dalam bisnis asuransi suretyship.

You can share this post!

Comments