Bisnis Apartemen Di Jawa Tengah Terus Menggeliat

Bisnis Apartemen Di Jawa Tengah Terus Menggeliat

Semarang – Bisnis apartemen di Jawa Tengah terus menggeliat seiring dengan banyaknya permintaan dari masyarakat kalangan menengah dan atas.

“Saat ini di Jateng yang tengah menggeliat yakni bisnis apartemen seperti di Semarang atas saja sudah ada empat tower baru yang siap dipasarkan,” kata Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah MR Prijanto di Semarang, Kamis (9/6/2016).

Menurut dia, semakin tingginya permintaan dari masyarakat, apartemen tidak hanya membidik masyarakat kelas atas tetapi juga kalangan menengah. Bahkan, tidak sedikit pengembang yang menjual apartemen dengan harga Rp200 juta/unit dengan perhitungan cicilan sekitar Rp1,4 juta/bulan.

“Cicilan ini selama 15 tahun jadi tidak memberatkan. Itulah mengapa semakin banyak peminat apartemen terutama di kota-kota besar,” katanya.

Saat ini, total apartemen yang dibangun di Semarang mencapai 15 tower. Jumlah ini akan lebih banyak jika ditambah dengan apartemen yang ada di Solo.

“Untuk di Jawa Tengah baru dua kota ini yang memiliki potensi pasar sangat besar untuk apartemen. Kalau di daerah lain, masyarakat masih lebih terbiasa dengan landed house,” katanya.

Sementara itu, menjamurnya apartemen di Jawa Tengah tersebut berdampak kurang baik bagi pembangunan rumah susun milik di Jawa Tengah. Menurut dia, harga yang ditawarkan untuk rumah susun milik belum sesuai dengan besaran penghasilan segmentasi dari rumah susun murah ini.

“Rumah susun kan segmentasinya untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Penghasilan mereka setiap bulan saja di kisaran Rp1,6 juta. Kalau suami istri bekerja artinya penghasilan Rp3,2 juta/bulan. Sepertiga dari penghasilan ini belum cukup untuk membayar cicilan rumah susun setiap bulannya,” katanya.

Di sisi lain, bagi pengembang daripada membangun rumah susun lebih memilih untuk membangun apartemen untuk kalangan menengah. Kondisi ini merupakan dampak dari tingginya harga lahan, standar dari Pemerintah untuk pembangunan rumah susun adalah Rp7,2 juta/m2, tetapi yang terjadi di lapangan harga lahan sudah mencapai Rp12 jutaan/m2. (he/Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *