Pengusaha Diminta Pahami Strategi Ekspor ke Tiongkok

thumb_20151105_Pengusaha_Diminta_Pahami_Strategi_Ekspor_ke_TiongkokJakarta – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengharapkan para pengusaha lebih memahami strategi ekspor ke Uni Eropa dan Tiongkok agar kinerja ekspor untuk produk dalam negeri meningkat.

“Pengusaha Indonesia harus lebih memahami strategi ekspor ke Uni Eropa dan Tiongkok agar ekspor nasional makin meningkat,” kata Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Widodo dalam sosialisasi tentang Indonesia Technical Requirements Information System (INATRIMS) di Jakarta, Rabu (5/11/2015).

Sosialisasi dilakukan kepada anggota Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dengan tema “Peningkatan Akses Pasar Ekspor ke Uni Eropa dan Tiongkok melalui INATRIMS” dimana sosialisasi tersebut merupakan tindak lanjut nota kesepahaman antara Kemendag dengan APINDO untuk membina dan mengembangkan pelaku usaha nasional dalam upaya peningkatan ekspor.

“Direncanakan pada 2015 ini INATRIMS dikembangkan juga untuk negara Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Korea Selatan,” tambah Widodo.

Widodo menjelaskan, INATRIMS merupakan portal berbahasa Indonesia yang berisi persyaratan dan regulasi teknis negara tujuan ekspor. INATRIMS lahir dari implementasi salah satu bantuan Uni Eropa melalui Trade Support Program II (TSP II) pada 2009.

Melalui TSP II, Uni Eropa membantu memfasilitasi ekspor Indonesia ke pasar internasional, meningkatkan infrastruktur mutu ekspor, dan meningkatkan keberterimaan produk Indonesia di pasar internasional yang salah satunya ialah program pembangunan sistem informasi tentang persyaratan dan regulasi teknis negara tujuan.

INATRIMS dikembangkan bersama delapan kementerian atau lembaga, yaitu Kemendag, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Standardisasi Nasional (BSN), Komite Akreditasi Nasional (KAN), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dalam sosialisasi tersebut, anggota Apindo yang menjadi peserta adalah para pelaku usaha yang terdiri dari UKM atau IKM yang belum pernah melakukan ekspor namun memiliki komitmen untuk ekspor, dan pelaku usaha yang berorientasi ekspor namun masih menghadapi kendala persyaratan memasuki pasar suatu negara.

Widodo mengungkapkan, UKM memiliki peranan penting dalam laju pertumbuhan perekonomian masyarakat. UKM membantu negara atau pemerintah dalam hal penciptaan lapangan kerja baru.

“UKM memiliki fleksibilitas yang tinggi jika dibandingkan dengan usaha yang berkapasitas lebih besar. Oleh karena itu perkembangan UKM di Indonesia perlu mendapat perhatian yang khusus dan dukungan informasi akurat, agar terjadi link bisnis yang terarah antara pelaku UKM dengan elemen daya saing usaha,” ujar Widodo. (He/we)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *