• Indonesia
Dampak Pandemi, Premi dan Pendapatan Asuransi Jiwa Anjlok
Asuransi

Dampak Pandemi, Premi dan Pendapatan Asuransi Jiwa Anjlok

Industri asuransi jiwa sepanjang semester satu tahun 2020 mencatat penurunan premi dan pendapatan total. Penurunan total pendapatan terus berjalan seiringnya dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian, khususnya pasar modal sebagai pemberi investasi utama.

Berdasarkan data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pada semester satu 2020, industri asuransi jiwa memiliki pendapatan premi sebesar Rp. 88,02 triliun. Pada semester satu 2019 pendapatan premi sebesar Rp. 90,25 triliun. Pada tahun ini penurunan premi sebesar 2,5 persen year on year (yoy)dari tahun sebelumnya.

Kedua jenis premi industri mengalami penurunan di tahun ini. Pendapatan premi baru semester satu tahun 2020 turun menjadi sebesar Rp. 53,12 triliun atau 2,7 persen yoy dibandingkan dengan semester satu tahun 2019 sebesar Rp. 54,56 triliun. Pendapatan premi lanjutan untuk semester satu tahun 2020 turun menjadi sebesar Rp. 34,91 triliun atau 2,2 persen yoy dari premi lanjutan sebesar Rp. 35,68 triliun pada semester satu tahun 2019.

Hasil investasi yang merupakan sumber pendapatan lainnya di asuransi jiwa ikut merosot secara tahunan. Hasil investasi semester satu tahun 2020 berada di negatif Rp. 20,97 triliun. Penurunan tersebut berbalik rugi dan anjlok dari pendapatan semester satu tahun 2019 yang masih untung sebesar Rp. 22,82 triliun.

Penurunan pendapatan premi dan hasil investasi mempengaruhi total pendapatan asuransi jiwa pada semester satu tahun 2020 menjadi Rp. 72,57 triliun atau turun 38,7 persen yoy dari Rp. 118,30 triliun pada semester satu tahun 2019. Penurunan pendapatan tersebut dinilai karena dampak dari pandemi Covid-19.

Kondisi perekonomian tertekan karena pandemi Covid-19. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun sepanjang semester satu tahun 2020 terlihat menurun. Penempatan investasi asuransi jiwa di pasar modal begitu besar sehingga sangat mempengaruhi hasil kinerja industri.

Budi mengatakan meskipun pendapatannya menurun, asuransi jiwa akan tetap berkomitmen untuk memenuhi tanggung jawab kepada masyarakat melalui pembayaran klaim. Kondisi pandemi Covid-19 pun ikut mempengaruhi perubahan kinerja pembayaran klaim.

AAJI mencatat klaim dan manfaat yang dibayarkan turun menjadi Rp. 64,52 triliun pada semester satu tahun 2020 atau 1,9 persen yoy dari sebesar Rp. 65,77 triliun pada semester satu tahun 2019.

Togar Pasaribu Direktur AAJI mengatakan bahwa seharusnya pemerintah mendorong atau mempromosikan pentingnya proteksi asuransi kepada masyarakat di masa krisis pandemi Covid-19 yang terus meningkat. Proteksi asuransi dapat memberikan dua manfaat utama, yaitu masyarakat yang terproteksi dan tumbuhnya industri asuransi.

Salah satu contohnya tindakan pemerintah terhadap industri perbankan pasca kritis tahun 1998. Pada saat itu, pemerintah sangat gencar mengamanyekan masyarakat untuk menabung di bank. Pemerintah menjelaskan bahwa menyimpan uang di bank akan lebih aman.

Pemerintah mempromosikan tabungan dengan sangat massif pada waktu itu. Hasilnya dapat dilihat pada saat ini, banyak masyarakat Indonesia yang menabung di bank dan bahkan hampir semua lapisan masyarakat memiliki rekening di bank. Menurut Togar, kini saatnya pemerintah untuk mempromosikan asuransi dan dana pensiun.

Direktur AAJI itu mengatakan jika pemerintah ikut serta dalam mempromosikan asuransi, masyarakat akan menjadi sejahtera karena perekonomiannya yang lebih terjaga. Hal ini sudah dilakukan di beberapa negara maju dengan kontribusi asuransi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar.

Togar menilai bahwa tumbuhnya industri asuransi sejalan dengan upaya pemerintah untuk memproteksi masyarakat melalui program jaminan sosial yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. Oleh karena itu, dukungan pemerintah terhadap proteksi sangat penting, bukan hanya untuk masyarakat, tetapi juga untuk industri asuransi.

You can share this post!

Comments