• Indonesia
Desakan AS Diklaim Membuat China Semakin Kuat
Analisa

Desakan AS Diklaim Membuat China Semakin Kuat

Global Times menulis pemerintahan Presiden AS (Amerika Serikat), Donald Trump, sedang menghadapi China yang semakin kuat dan memiliki kebutuhan sendiri yang mendesak. Washington tidak bisa mendesak China terlalu jauh dan harus menghindari situasi yang berputar di luar kendali.

Negoisator kedua negara memulai pembicaraan kemarin, Senin (7/1), di Beijing untuk membahas hubungan dagang kedua negara yang saat ini ditandai dengan perang tarif. Ketegangan ekonomi antara AS dan China dikhawatirkan bisa menghambat perekonomian global.

Sampai kini belum ada bahwa kedua pihak mengubah pendiriannya. Trump mulai melancarkan perang dagang pada Juli lalu dengan menaikkan tarif impor barang-barang dari China dengan alasan negara itu mencuri hasil-hasil inovasi atau menekan perusahaan AS untuk menyerahkan teknologinya.

China kemudian melakukan langkah balasan dengan mengenakan tarif impor atas produk-produk AS. Trump dan Presiden China, Xi Jinping, pada 1 Desember 2018 lalu, sepakat menunda kenaikan tarif impor babak kedua selama 90 hari untuk melakukan negosiasi.

Para ekonom mengatakan bahwa terlalu sedikit waktu untuk menyelesaikan masalah yang telah menganggu hubungan AS dengan China selama bertahun-tahun. Washington mendesak Beijing untuk mengubah kebijakannya dalam bidang teknologi, termasuk rencana membentuk perusahaan-perusahaan unggulan yang disubsidi dalam bidang robotika dan bidang lainnya.

Eropa, Jepang dan mitra dagang lainnya juga mendukung keluhan AS bahwa China terlalu menutup pasarnya untuk perusahaan asing. Para pejabat China memang menyatakan akan meninjau kembali rencana pengembangan industrinya, namun menolak tekanan luar negeri agar mereka meninggalkan strategi teknologinya.

Para pemimpin China melihat keunggulan di bidang teknologi sebagai salah satu kunci menuju kemakmuran dan mengukuhkan pegnaruh global yang lebih besar. AS dan China melakukan negosiasi perdagangan, meskipun masih ada ketegangan politik sehubungan dengan penangkapan pejabat tinggi perusahaan Huawei di Kanada atas perminataan AS.

Sebelumnya, AS memberlakukan kenaikan tarif impomr sampai 25 persen produk-produk China senilai 250 miliar dolar AS. China membalas dengan mengenakan pajak impor pada barang-barang dari AS senilai 110 miliar dolar AS dan menangguhkan pemberian lisensi di bidang keuangan dan bisnis lainnya.

Perang dagang sudah menghambat perekonomian di kedua negara. Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal kedua tahun lalu, turun ke 6,5 persen tingkat terendah pasca krisis global. Penjualan mobil di China anjlok 16 persen pada November 2018 dibanding satu tahun sebelumnya.

Pertumbuhan 3,4 persen pada kuartal ketiga dan pengangguran berada pada tingkat terendah selama lima dekade. Tetapi survei menunjukan bahwa kepecayaan konsumen melemah karena kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi tahun ini.

Sementara itu, diperkirakan rupiah akan berbalik melemah apabila perang dagang terhenti. Apabila misi dagang AS dan China berhasil meredakan perang dagang, ekonomi AS akan membaik. Apabila kondisi perekonomian AS tumbuh cepat, maka akan diikuti inflasi yang lebih tinggi, sehingga ada kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunganya.

You can share this post!

Comments