Ekonomi Masih Lesu, Penjualan Otomotif Merosot

otomotif2Penjualan otomotif tahun ini masih juga melorot. Padahal, tahun ini sudah berjalan tiga bulan. Dalam rentang Januari-Maret, penjualan kendaraan roda empat tak menunjukkan kenaikan dibanding periode yang sama tahun lalu. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kamis (14/4) merilis, kuartal pertama tahun ini penjualan hanya mencapai angka 267.252 unit.

Perinciannya, Januari 85.012 unit, Februari 88.250 unit dan Maret 93.990 unit. Walaupun trennya naik, tapi belum mampu menyamai penjualan tahun lalu yang mencapai 282.344 unit.

Pelemahan yang sama menimpa penjualan sepeda motor. Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), yang dilansir CNN Indonesia mengungkap, sepanjang Januari-Maret 2016 total penjualan sepeda motor nasional mencapai 1,5 juta unit. Angka ini lebih rendah sekitar 100 ribu unit dibandingkan penjualan periode yang sama tahun lalu.

Tahun ini memang dicemaskan suram buat perekonomian. Firma riset internasional Frost & Sullivan Januari lalu sudah memperkirakan pasar otomotif roda empat tahun ini turun 4,3 persen jadi 969.100 unit. Tahun lalu pasar mobil mencapai 1,013 juta unit.

Wakil presiden Automotive dan Transportation Practice, Asia Pasifik di Sullivan Vivek Vaidya menilai pasar akan terganggu pelemahan dari pasar komoditas dan penurunan nilai tukar rupiah. Hasilnya, harga komponen maupun harga mobil utuh akan terkerek. “Problem ini akan mendera pasar domestik,” katanya seperti dikutip Bisnis.com.

Sejak awal tahun, Gaikindo mencoba menyalakan optimisme. Mereka memprediksi pasar otomotif domestik tahun ini bisa menanjak lima persen, sejalan dengan prediksi pertumbuhan ekonomi. Dengan ramalan ini, maka penjualan dipasang di angka 1,050 juta unit. “Kalaupun bagus-bagus bisa sampai 1,100 juta unit,” kata Ketua Umum I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto Jakarta, Januari lalu seperti dikutip dari Antaranews.com.

Sekretaris Jenderal Gaikindo Noergadjito memproyeksikan penjualan kendaraan bermotor akan meningkat seiring dengan penurunan harga BBM per 1 April ini. “Secara teoritis penurunan harga BBM ini dampaknya bagus untuk penjualan,” ujarnya kepadaKatadata.

Contohnya, saat harga BBM naik pada November 2014, penjualan kendaraan langsung turun signifikan di awal 2015 lalu. “Penyebabnya bukan karena turunnya daya beli, tapi (masyarakat) menunda pembeliannya,” kata dia. Tapi penurunan harga BBM yang baru dua pekan, belum terlihat imbasnya.

Menurut Jongkie selain harga BBM, ada banyak faktor yang mempengaruhi penjualan kendaraan bermotor di Indonesia, yakni nilai tukar, inflasi dan daya beli, keberadaan pembiayaan otomotif, kondisi ekonomi global, peraturan dan perpajakan, pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi nasional dan BI Rate alias suku bunga acuan BI. Jongkie menggaris bawahi dua faktor kunci, keberadaan pembiayaan otomotif serta peraturan dan perpajakan dari pemerintah.

Kenapa pembiayaan otomotif? Sebab lebih dari 70 persen konsumen membeli kendaraan lewat kredit. Sehingga suku bunga acuan BI jadi penting. Sebab suku bunga kredit pembelian kendaraan sangat terpengaruh oleh BI Rate.

Faktor kunci lain adalah peraturan dan perpajakan pemerintah yang terkait langsung dengan industri otomotif, Jongkie menyebut, 35 persen dari harga jual mobil masuk ke kantong pemerintah pusat dan daerah. Dia memperinci, Bea Balik Nama itu 10 persen, kemudian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen, serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) bervariasi antara 10 persen hingga 125 persen. Pemerintah pusat mengantongi 25 persen dari PPN dan PPnBM. Pemda dapat jatah Bea Balik Nama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *