Harga Minyak Stabil Jelang Pertemuan Opec

minyak New York – Harga minyak bergerak menyamping menjadi berakhir stabil pada Selasa (Rabu pagi WIB, 2/12/2015), karena para pedagang menunggu laporan mingguan minyak AS dan pertemuan OPEC yang dipandang tak mungkin mengurangi produksinya meskipun harga terus-menerus melemah.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari, naik 20 sen menjadi ditutup pada 41,85 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Januari, patokan internasional untuk minyak, menetap di 44,44 dolar AS per barel di perdagangan London, turun 17 sen dari penutupan Senin.

“Pasar minyak mentah diperdagangkan sedikit berubah karena para pedagang menarik diri dari membangun posisi baru menjelang pertemuan OPEC pada Jumat, memperpanjang apa yang telah terjadi selama dua minggu bergerak menyamping,” kata Tim Evans dari Citi Futures.

Keterangan oleh gembong OPEC Arab Saudi menunjukkan kesediaannya untuk membicarakan perubahan produksi kartel yang tinggi, ditanggapi dengan skeptis oleh para pedagang.

“Kami akan membahas … dan kemudian memutuskan tentang produksi,” Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Naimi mengatakan kepada wartawan saat tiba di Wina, menjelang pertemuan 12 negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Jumat.

Evans mengatakan bahwa pasar minyak “jelas memiliki keraguan apakah mereka akan mengadopsi menahan produksi untuk membuat ruang untuk kemungkinan peningkatan 2016 dalam produksi Iran atau menyeimbangkan kembali pasar dalam mendukung harga yang lebih tinggi.” Meskipun kelebihan pasokan global, Arab Saudi telah bertekad untuk terus mempertahankan pangsa pasarnya dalam menghadapi persaingan kuat dari produksi minyak serpih AS.

Iran diperkirakan dapat meningkatkan ekspor minyaknya setelah sanksi-sanksi Barat dicabut berdasarkan kesepakatan yang dicapai dengan kekuatan utama dunia pada Juli untuk mengekang program nuklirnya.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pekan lalu negaranya mengharapkan kesepakatan mulai berlaku pada awal Januari, yang memungkinkan negaranya untuk memulai ekspor tingkat tinggi.

Sementara para pedagang memperkirakan penurunan dalam persediaan minyak mentah komersial AS yang tinggi dalam laporan mingguan Rabu dari Departemen Energi.

Menurut survei terhadap para pakar oleh Bloomberg News, stok minyak mentah AS kemungkinan mengalami penurunan sebesar 800.000 barel pada pekan lalu. Persediaan meningkat sebesar 1,0 juta barel menjadi 488,2 juta barel dalam pekan yang berakhir 20 November, naik 27,5 persen dari setahun lalu. (Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *