Inflasi Akhir Tahun di Bawah 3,6 Persen

thumb_20151114_Inflasi_Akhir_Tahun_di_Bawah_36_PersenJakarta- Bank Indonesia (BI) memperkirakan tingkat inflasi hingga akhir 2015 berada di bawah 3,6 persen. Sekalipun ada indikasi inflasi pada November meningkat, ini masih berada di kisaran yang rendah.

“Memang biasanya kalau November ada kenaikan dari Oktober. Namun, inflasinya masih rendah sehingga kemungkinan itu akhir tahun ini lebih rendah seperti dari yang kami perkirakan sebelumnya,” ujar Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (12/11).

Ia melanjutkan, dari hasil pemantauan BI pada minggu pertama bulan ini, tingkat inflasi masih berada pada kisaran 0,13 persen. Hal ini dinilai masih berada pada level aman.

BI sebelumnya memperkirakan tingkat inflasi tahun ini sebesar 3,6 persen. Namun, jika melihat tren pada dua bulan ke depan, Perry optimistis tingkat inflasi akan berada di bawah perkiraan. “Semula kan kami bicara 3,6 persen. Kemungkinan bisa lebih rendah dari itu,” serunya.

Jika dibandingkan tahun lalu, tingkat inflasi tahun ini diperkirakan juga akan lebih rendah. Pasalanya, tahun ini tidak ada gejolak yang berarti di dalam negeri seperti karena kenaikan harga BBM akhir tahun lalu.

“Mulai bulan ini, pengaruh base effect-nya kan hilang. Jadi, mulai bulan ini year on year-nya akan lebih rendah dari 5 persen. Tahun lalu kan ada kenaikan harga BBM,” ucapnya.

Pada Oktober 2015 terjadi deflasi mencapai 0,08 persen. Realisasi ini berbeda dengan posisi Oktober 2014 yang mengalami inflasi mencapai 0,47 persen. Deflasi ini terjadi berturut-turut setelah realisasi deflasi 0,05 persen pada September 2015.

Sementara itu Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual sebelumnya justru menuturkan, tren inflasi rendah saat ini akan berlanjut sampai akhir tahun. Ia melihat pasokan pangan yang menjadi faktor terbesar pengerek inflasi sudah mulai stabil, meskipun masih ada ancaman El Nino.

“Di Indonesia itu, inflasi lebih besar dipengaruhi pasokan pangan yang berkontribusi sekitar 30 persen inflasi. Nah, dengan pasokan mulai terjaga saat ini, tren inflasi sampai akhir tahun akan rendah. Saya perkirakan bahkan bisa di bawah 3 persen, di bawah perkiraan pemerintah dan BI,” tuturnya.

BI menargetkan inflasi tahun ini 3-5 persen, sedangkan pemerintah menetapkan target inflasi 5 persen dalam asumsi makroekonomi RAPBN-P 2015.

Sampai akhir tahun, beberapa faktor yang bakal memengaruhi inflasi adalah kenaikan tarif listrik dari subsidi yang dicabut dan tarif tol. “Walau keduanya naik, tak akan berpengaruh besar terhadap inflasi, tak sebesar kenaikan BBM akhir tahun lalu,” ucapnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan rencana pemangkasan subsidi listrik untuk pengguna rumah tangga golongan terendah bakal menyumbang inflasi nasional sekitar 0,4 persen.

Deputi Bidang Distribusi dan Statistik BPS, Sasmito Hadi Wibowo menuturkan, rencana pemerintah mengurangi jumlah pelanggan listrik bersubsidi, 450 VA dan 900 VA akan meingkatkan beban ekonomi rumah tangga. Kebijakan itu nantinya akan memaksa jutaan rumah tangga pengguna listrik golongan terendah untuk naik kelas menjadi golongan listrik 1.300 VA dan 2.200 VA.

“Tentunya biaya hidup rumah tangga akan naik karena salah satu faktornya naik, seperti listriknya naik. Nah naiknya itu kan menyebabkan kenaikan inflasi,” ujar Sasmito.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *