Ini Syarat Agar Pertumbuhan Ekonomi 5,3% Tercapai

thumb_20151114_Inflasi_Akhir_Tahun_di_Bawah_36_PersenBank Indonesia (BI) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1%-5,3% pada akhir tahun 2016 dapat tercapai. Prediksi ini dapat tercapai asalkan dengan syarat bila didorong oleh percepatan pencairan anggaran.

“Masih ada harapan kita tumbuh di atas 4,9%, tapi kita butuh dorongan, yakni salah satunya percepatan pencairan anggaran. Percepatan pencairan anggaran itu harus didorong di setiap departemen, kementerian dan di daerah,” kata Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara di Jakarta, Senin (16/5/2016).

Jadi, lanjut dia, kalau kuartal I tahun 2016 pencairan anggaran masih rendah maka harus didorong terus dengan begitu ada harapan pertumbuhan ekonomi lebih baik pada kuartal II dan III tahun 2016.

Mirza mengatakan, perlambatan pertumbuhan ekonomi bukan hanya di alami oleh Indonesia. Namun, negara berkembang dari tahun 2012-2015 mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Tahun 2012, pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3%, kemudian melambat di tahun 2013 dan seterusnya. Bahkan, Singapura, Thailand, Brazil, Afrika Selatan juga mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, perlambatan ini disebabkan ekonomi China yang mengalami perlambatan.

“Ekonomi China yang dulu berada di angka 12% kini hanya tumbuh sekitar 6,5%. Lambatnya ekonomi China ini berdampak pada harga komoditas tambang dan perkebunan yang jatuh signifikan di 70% sampai 80%,” jelasnya.

Dia menuturkan, turunnya harga komoditas membuat pertumbuhan ekonomi di wilayah penghasil komoditas seperti Kalimantan dan Sumatera ikut jatuh.

“Jadi pertumbuhan ekonomi China lemah karena pada awalnya China ingin melambatkan ekonominya. Pasalnya Cina tidak ingin ada policy terlalu besar sehingga pada 2012, China melakukan pengetatan moneter tapi kemudian ekonomi China melambat terlalu dalam,” ungkapnya.

Selain perekonomian China yang melambat, kata Mirza, pengaruh perlambatan ekonomi Indonesia juga dipengaruhi oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed yang menaikkan suku bunga sehingga menyebabkan gejolak moneter di berbagai negara.

Dengan demikian, perlambatan ekonomi China ditambah dengan gejolak suku bunga Amerika yang terjadi pada 2013-2015 membuat perlambatan ekonomi. Meski begitu, dia menilai saat ini ekonomi China sudah mulai menunjukan pemulihan meski belum signifikan.

Selain itu, harga komoditas juga sudah mulai meningkat. Itu menunjukan bahwa sudah ada harapan pertumbuhan ekonomi di Sumatera dan Kalimantan akan ada pemulihan.

“AS juga masih akan menaikan suku bunga tapi tertunda makanya membuat kondisi negara emerging market lebih stabil. Sehingga kurs kita stabil dan ekonomi Jawa lebih hidup, karena Jawa menyumbang sekitar 60% perekonomian Indonesia. Kita juga berharap Kalimantan dan Sumatera bisa lebih baik,” papar dia.

(Red/Sindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *