• Indonesia
Fintech Ilegal Berjamur, Kenali Cirinya!
Artikel

Fintech Ilegal Berjamur, Kenali Cirinya!

Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi menghentikan kegiatan 168 entitas yang diduga melakukan kegiatan usaha peer to peer lending namun tidak terdaftar atau memiliki izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kegiatan bisnis pembiayaan financial technology (fintech) tersebut berisiko merugikan masyarakat.

Operasi ilegal ratusan fintech ilegal itu terungkap berdasarkan pemeriksaan pada website dan aplikasi Google Playstore. "Satgas Waspada Investasi kembali menghentikan kegiatan 168 entitas yang melanggar ketentuan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Penyelenggara Layanan Pinjaman Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi yang berpotensi merugikan masyarakat," kata Tongam L. Tobing, Ketua Satgas Waspada Investasi.

Kegiatan 168 entitas ini diduga merupakan kejahatan finansial online yang melanggar peraturan perundang-undangan. Sampai saat ini, jumlah entitas yang diduga melakukan kegiatan finansial online sebanyak 803 entitas, yaitu 404 entitas pada periode 2018  dan 399 entitas pada Januari hingga Maret 2019.

Satgas Waspada Investasi juga telah menghentikan kegiatan 47 entitas yang diduga merupakan investasi ilegal dan berpotensi merugikan masyarakat, dengan jenis kegiatan usaha sebagaimana terlampir. Tongam mengingatkan penawaran investasi ilegal semakin mengkhawatirkan dan berbahaya bagi ekonomi masyarakat.

Kegiatan dan produk yang ditawarkan pun tidak berizin karena niat pelaku adalah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari masyarakat. Satgas Waspada Investasi meminta kepada masyarakat selalu berhati-hati dalam menggunakan dananya. Saat ini, kehadiran perusahaan fintech yang menyediakan pinjaman makin banyak dijumpai.

Apalagi syarat yang diminta perusahaan tersebut terbilang cukup mudah dipenuhi. Namun dengan semakin menjamurnya pinjaman online tersebut, banyak masyarakat yang terjebak utang berbunga tinggi. Akibatnya, mereka dikejar-kejar debt collector karena tak mampu melunasi utangnya.

Saat ini, banyak rentenir online berkedok fintech. Sampai dengan Desember 2018, hanya ada 88 fintech yang terdaftar di OJK. "Sebagai konsumen yang bijak, kenali ciri-cirinya agar terhindar dari jebakan rentenir online," demikian bunyi keterangan dari Kredivo.

Ciri-ciri rentenir online, biasanya tak terdaftar dan tak terawasi OJK. Jika ingin mengecek kebasahan sebuah fintech, bisa melihatnya di situs resmi OJK. Biasanya, bunga yang ditawrakan rentenir online mencekik. Contohnya, bunganya 1 persen per hari.

Artinya, harus bayar bunga 30 persen per bulan. Perusahaan tersebut juga tak mempermasalahkan data yang diberikan valid atau tidak. Kemudian utang rentenir online biasanya melakukan penagihan utan dengan cara meneror hingga melakukan pelecehan.

You can share this post!

Comments