• Indonesia
Harga Emas Berluktuasi Sepanjang 2018
Analisa

Harga Emas Berluktuasi Sepanjang 2018

Harga emas berfluktuasi tajam sepanjang tahun 2018 dan sempat terpuruk ke level terendah 20 bulan. Kini, emas terus menanjak dan outlook-nya diproyeksi semakin cerah tahun depan. Harga emas terus naik dan kemarin, Kamis (20/12), sempat meraih level tertinggi enam bulan sejak menyentuh level terendah pada Agustus lalu. Harganya pun naik di sepanjang empat bulan terakhir.

Kenaikan harga emas bahkan terjadi meski dolar AS (Amerika Serikat) masih tergolong bergerak menguat. Harga emas mencapai puncaknya tahun ini di 1365 per troy ons dolar AS pada Januari lalu. Emas kemudian merosost dan membentuk bottom di 1160 dolar AS pada Agustus setelah sempat berkonsolidasi di kisaran 1300 sampai 1365 dolar AS sampai April. Harga merangkak dan perlahan-lahan naik kembali memasuki kuartal keempat. Kejatuhan harga tidak lepas dari pengetatan kebijakan yang dilakukan The Fed.

Bank Sentral AS itu sudah menaikkan suku bunganya empat kali tahun ini ke 2,50 persen yang merupakan tertinggi dalam satu dekade. Kenaikan itu dilakukan dalam rapat pekan ini. Rentetan kenaikan suku bunga tersebut menjadi salah satu faktor yang mengangkat dolar. Indeks dolar menyentuh level tertinggi 20 bulan di 97.41. Dolar sudah menguat selama hampir tiga kuartal sehingga bisa dikatakan bahwa dolar mendominasi pasar di tahun ini.

Tapi diyakini jika dolar tidak mungkin menguat terus menerus dan dominasinya suatu saat pasti akan berakhir. Dolar masih menjadi penentu utama arah emas. Ada ruang bagi emas untuk melanjutkan tren kenaikannya bila Greenback mengalami koreksi signifikan tahun depan. Salah satunya adalah perlambatan ekonomi AS tahun depan yang menjadi serangkaian faktor potensi menyebabkan dolar terkoreksi.

Pada dasarnya, ekonomi AS mencapai peak dengan pertumbuhan mencapai 4,2 persen di kuartal kedua pada tahun ini. Nambun bursa saham AS sedang mencatat performa terburuk dalam satu dekade. Sektor perumhahan, salah satu indikator kesehatan kesehatan ekonomi AS mulai menunjukan tanda-tanda mengkhawatirkan. Investasi bisnis pun mulai melambat di kuartal ketiga.

Efek pemotongan pajak dan peningkatan belanja pemerintah yang dicanangkan pada 2017, diperkirakan akan sirna. Selain itu, kenaikan suku bunga yang dilakukan The Fed mulai terasa pada perekonomian. Dolar juga melemah pada tahun depan karena prospek selesainya normalisasi kebijakan The Fed. The Fed memproyeksikan kenaikan suku bunga dua kali untuk tahun depan dan satu kali pada 2020 dalam dot plot terbarunya.

The Fed tidak menutup kemungkinan kesulitan menaikkan suku bunganya tahun depan karena beragam kondisi. Dolar akan semakin tertekan bila Jerome Powell dkk semakin dovish tahun depan. Hal lain yang dapat melemahkan dolar tahun depan adalah membaiknya kondisi eksternal. Salah satunya adalah kesepakatan antara AS dan China yang dapat mengakhiri perang dagang.

Isu perang dagang merupakan salah satu ketidakpastian yang menyebabkan gejolak di pasar keuangan tahun ini. Patut disebutkan bahwa isu tersebut juga merupakan faktor yang melambungkan dolar karena mengangkat pamornya sebagai safe haven.

You can share this post!

Comments