• Indonesia
Imbas Harga Emas Akibat Emosti Trump kepada Presiden Iran
Analisa

Imbas Harga Emas Akibat Emosti Trump kepada Presiden Iran

Emas mengalami penguatan setelah sempat terpuruk. Penopangnya karena kurs dolar Amerika Serikat (AS) yang mulai tertekan serta hubungan mata uang negara tersebut dan Iran kembali memanas. Berawal dari Presiden AS, Donald Trump, tersulut emosi kepada Presiden Iran, Hassan Rouhani.

Emosinya Trump karena Rouhani menyatakan bahwa keputusan AS mengenakan sanksi kepada negaranya akan berujung penyelesaian. "Jika kondisi politik AS dan Iran berkembang semakin panas, ini bisa terus menjadi penopang harga emas dalam jangka pendek," ujar Faisyal, Analis Monex Investindo Futures.

Faisyal juga masih melihat adanya potensi harga emas kembali melemah di tengah ekspetasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve yang kuat. Ia menjelaskan bahwa kurs dolar AS yang cenderung flat belakangan ini membuat harga emas menguat. Trump mencuitkan ketidakpuasannya terhadap kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang menaikan suku bunga acuan secara agresif.

Trump kecewa kepada The Fed karena tetap menaikan suku bunga di tengah kondisi mata uang yan dan euro sedang melemah, "Trump khawatir ini berpotensi menghambat persaingan barang dan jasa milik AS di pasar," tutur Faisyal.

Pelemahan nilai tukar dolar AS memang berlanjut hingga awal pekan ini. Buktinya, indeks dolar AS per pukul 19.04 WIB masih terkoreksi tipis sebesar 0,05 persen ke posisi 94,433. Merebak juga kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko perang dagang. Hal itu turu menyokong harga emas karena Trump mencancam akan menaikan tarif impor terhadap barang-barang asal Cina dengan nilai 500 miliar dolar AS.

Harga emas kontrak pengiriman Agustus 2018 di Commoditu Exchange (Comex) mencapai 1.231,50 dolar AS per ons troi, pada Senin (23/7) per pukul 19.00. Harga itu hanya menguat tipis sebesar 0,03 persen dari posisi sebelumnya. Sementara harga emas rebound ke 1.231,10 dolar US per on troi pada akhir pekan lalu.

Harga naik setelah sempat terdampar ke level terendahnya dalam perdagangan di 1.224 dolar AS per ons troi pada Kamis (19/7) pekan lalu. Faisyal juga memprediksi harga emas akan bergerak dalam rentang 1.214 sampai 1.243 dolar AS per ons troi pada hari ini. Kisaran 1.195 sampai 1.270 dolar AS per ons troi juga akan bergerak selama sepekan ke depan.

Tapi secara teknikal, harga emas masih bergerak di bawah garis moving average (MA) 50, 100 dan 200. Begitu pun dengan indikator MACD yang masih berada di teritori negatif pada level 0,891. Indikator stochastic ada di posisi 39,08 dan RSI berada di 58,21 dan menunjukan pelemahan.

Sebelumnya, kontrak paling aktif untuk pengiriman Agustus telah turun 5,5 dolar AS atau 0,45 persen dan menjadi ditutup pada 1.225,6 dolar AS per ons troi. Di sisi lain, adapun harga-harga logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September turun 12,4 sen AS atau 0,8 persen menjadi menetap di 15,425 dolar AS per ons troi.

Platinum untuk penyerahan para Oktober juga bertambah 1,5 dolar AS atau 0,18 persen menjadi ditutup 831 dolar AS per ons troi. Sementara itu, bank-bank dan broker-broker telah memangkas proyeksi rata-rata harga emas mereka untuk tahun ini dan berikutnya menyusul kerugian besar di kuartal kedua.

{literal} {/literal}
"Jika kondisi politik AS dan Iran berkembang semakin panas, ini bisa terus menjadi penopang harga emas dalam jangka pendek,"

You can share this post!

Comments