• Indonesia
Impor Gerus Pabrik Serat dan Benang Hingga Bankrut
Berita

Impor Gerus Pabrik Serat dan Benang Hingga Bankrut

Industri serat dan benang ketar-ketir menghadapi gempiran produk impor karena kalah bersaing. Industri dalam negeri kewalahan sehingga beberapa pabrik serat dan benang tercatat gulung tikar. Permendag Nomor 64/2017 pun dikeluhkan Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI). Aturan tersebut dianggap menjadi salah satu pendorong lonjakan impor produk serat dan benang.

Pasalnya, trader diperbolehkan mengimpor melalui Pusat Logistik Berikat (PLB). Aturan sebelumnya, yakni Permendag Nomor 85/2016, hanya produsen yang boleh mengimpor. Semetnara trader tak boleh mengimpor untuk kategori produk tertentu, terutama kain. Membanjirnya produk impor membuat beberapa pabrik serat dan benang ditutup. Kebutuhan untuk semua jenis serat dan benang mampu dipenuhi oleh industri dalam negeri, kecuali kapas.

Bahan dasar kapas masih belum dapat diproduksi di Indonesia sehingga membutuhkan impor dari China. "Tapi karena kalah bersaing (dengan produk impor). Akhirnya banyak yang gulung tikar," ungkap Ravi Shankar, Ketua Umum APSyFI membenarkan hal tersebut.

Persaingan dengan produk impor menjadi adil ketika pemain lokal tidka mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri atau industri dalam negeri tidak dapat memproduksi produk tersebut. "Namun, apa yang terjadi saat ini tidak demikian. Meskipun suplai semua terpenuhi, produk impor tetap masuk," tegas Redma Gita Wirawasta, Sekretaris Jenderal APSyFI.

Berdasarkan catatan APSyFI, untuk industri hilir atau pakaian jadi, kapasitas produksi dalam negeri mencapai 2,7 juta ton. Sementara kebutuhan garmen dalam negeri mencapai 2,4 juta ton. Termasuk ekspor yang jumlahnya sebanyak 600.000 ton. Saat ini, impor garmen mencapai 800.000 ton. Artinya, produksi dalam negeri yang terserap di pasar lokal hanya 1,6 juta ton sehingga banyak kain yang menganggur.

Pada 2008 lalu, impor garmen diperbolehkan karena diangggap bisa meningkatkan kapasistas ekspor industri lokal. Saat itu, impor garmen hanya sebesar 300.000 ton, sementara volume ekspornya lebih besar, yakni 500.000 ton. "Nah saat ini, impor 800.000 ton, sementara ekspornya cuma 600.000 ton. Itu sisanya yang masuk ke pasar lokal," terang Redma.

Akibat tak mampu bersaing dengan produk impor, surplus neraca perdagangan sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) menyusut menjadi sekitar 3 miliar sampai 4 miliar dolar AS (Amerika Serikat). Atas hali itulah APSyFI menempuh sejumlah langkah demi memperjuangkan nasib industri dari hulu ke hilir. Misalnya mengajukan kebijakan anti dumping.

"Beberapa kasus sudah kita bicarakan dengan KADI (Komite Anti Dumping Indonesia) dan sudah direkomendasikan. Malah sudah ada yang direkomendasikan tim kepentingan nasional, namun belum diimplementasikan," beber Redma.

Memang industri serat dan benang masih terus memperjuangkan nasibnya agar bisa bertahan di tengah gempuran impor yang semakin mendesak. Banyaknya jumlah kain yang tidak terserap tersebut menyebabkan tingkat utilisasi hanya mencapai 55 persen.

You can share this post!

Comments