Holding BUMN Energi, Untungkan 57% Perusahaan Publik Publik yang Sahamnya Milik Negara

imagesJakarta – Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor energi dianggap akan membawa keuntungan bagi PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Pasalnya, PGN akan mendapat akses langsung ke sumber gas yang dimiliki PT Pertamina (Persero).

PGN sebagai perusahaan yang posisinya sebagai distributor gas akan mendapatkan akses langsung dengan sumber energi dan ini tentu memberikan suatu advantage, dan akan memberikan dampak positif dalam hal biaya operasional, kata Pakar bidang Ketahanan Energi dan Pengajar Geoekonomi Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Dirgo D Purbo di Jakarta, Jumat (10/6/2016).

Tidak hanya keuntungan bagi PGN, namun juga bagi perusahaan publik yang 57 % sahamnya dimiliki negara. Selain itu, holding juga akan menjadikan operasional Pertamina dan PGN menjadi lebih efektif dan efisien.

Hal ini akan berdampak positif terhadap biaya operasional, yang akan berkurang secara korporat. Dengan demikian, biaya operasional akan jauh lebih murah. Besarnya biaya yang terpangkas dengan adanya integrasi operasional antara Pertamina dan PGN tersebut, lanjut Dirgo, bisa mencapai 30 persen.

Menurut Dirgo, peningkatan efektivitas dan efisiensi terjadi, karena Pertamina dan PGN memiliki aset operasional yang sama, seperti fasilitas operasi, perlengkapan dan sistem kontrol. Dengan penggabungan aset operasional tersebut akan mengurangi faktor gangguan pasokan dari sumber energinya, dalam hal ini Pertamina di hulu dan PGN di hilir yang dioperasikan dalam satu manajemen.

Selain itu, penggabungan PGN ke Pertamina juga akan memberikan dampak positif terhadap ketahanan energi nasional. Pasalnya holding dipercaya bisa memperkuat sektor minyak dan gas nasional.

“Langkah strategis inilah yang memperkuat posisi industri migas secara vertikal. Integrasi merupakan kekuatan fundamental dari industri migas,” katanya.

Sementara itu, Pengamat dan dosen Ketahanan Energi Universitas Pertahanan, Yanif Dwi Kuntjoro menambahkan integrasi PGN ke Pertamina akan mengurangi biaya investasi dalam infrastruktur energi.

Misalnya, aspek biaya koordinasi atau komunikasi. Belum lagi hal lain, seperti kompetensi dan kompetisi sumber daya manusia yang menjadi satu atap.

“Kedua perusahaan lebih singkat, cepat, murah dalam berkoordinasi ataupun berkomunikasi. Sehingga diharapkan melalui logika rasional berdampak pada harga gas semakin turun,” ujarnya.(red/oke)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *