• Indonesia
Ini Alasan iPhone Terhindar dari Kenaikan Tarif Impor AS
Perdagangan

Ini Alasan iPhone Terhindar dari Kenaikan Tarif Impor AS

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengecualikan produk gadget buatan Apple dari tarif impor baru sebesar 10 persen, atas yang diimpor dari China. Kebijakan pengenaan tarif impor baru itu akan mulai berlaku pada 24 September 2018 untuk produk asal China senilai 200 miliar dolar AS.

Sambil merilis aturan baru itu, Trump menyatakan ancaman jika China melakukan aksi balasan. "Kami akan segera memberlakukan tarif impor tahap ketiga, yaitu (untuk produk impor China) senilai 267 dolar AS," katanya seperti dikutip dari Reuters.

Di antara produk-produk impor China yang terkena tarif baru ini adalah teknologi, termasuk aneka gadget. Meski demikian, iPhone dikecualikan pemerintah AS dari daftar yang terkena aturan baru tersebut. Meski iPhone dikembangkan dari kantor pusat Apple di California, AS, produksinya secara massal banyak dilakukan di China.

Pada 2017 lalu, AS mengimpor 61 juta unit iPhone dari China jika mengutip dari data counterpointresearch.com. Lembaga riset itu juga mengungkapkan ongkos pembuatan iPhone 7 dan iPhone 7 Plus sekitar 258 dolar AS per unit. Namun tak semua uang itu dikantongi China karena sebagian besar komponen iPhone diimpor China dari negara-negara lain.

Pabrik iPhone di China misalnya, harus membayar 110 dolar AS ke Samsung di Korea Selatan untuk komponen layar 44,5 dolar AS ke Toshiba Corp Jepang untuk komponen memori chip. Beberapa komponen iPhone lainnya juga diimpor China dari Taiwan, AS dan Eropa. Sedangkan yang benar-benar jadi pendapatan China hanya dari ongkos perakitan, yakni sekitar 3 sampai 6 persen dari harga jual produk Apple.

Tapi selama ini, Trump sering mengeluhkan produk gadget termasuk buatan Apple yang diproduksi di China sebagai salah satu penympang defisit perdagangan AS dengan China. Keluhan itu berulang kali dia cuitkan dari iPhone miliknya melalui akun twitter pribadi Trump. Tak mengherankan jika media-media AS menulis, kalau Trump mengenakan tarif impor untuk produk Apple asal China, hal itu akan sia-sia.

Dampaknya bukan China semata, melainkan industri-industri di engara lain yang selama ini memasik komponen iPhone. Di luar itu, tentu saja konsumen AS sendiri yagn harus membayar lebih mahla untuk iPhone yang mereka beli. Aturan soal tarif impor baru ini akan mulai efektif pada 24 September 2018. Jika tak ada jalan damai antara kedua negara, AS akan menaikan lagi tarif impor dari 10 persen menjadi 25 persen pada akhir tahun nanti.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal perdagangan hari ini, Selasa (18/9) dibuka anjlok cukup dalam hingga menyentuh level Rp 14.908 per dolar AS untuk melanjutkan tren pelemahan dari kemarin. Kemerositan mata uang Garuda mengiringi dolar yang sedikit lebih tinggi dan saat  Yuan China menyusut ketika pasar global mulai bersiap atas penerapan tarif baru AS atas produk-produk China.

You can share this post!

Comments