• Indonesia
Ini Penyebab Harga CPO Terkoreksi
Berita

Ini Penyebab Harga CPO Terkoreksi

Harga minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kontrak Mei di Bursa Derivatives Malaysia Exchange pada Jumat pekan lalu, (8/3), terkoreksi 0,47 persen ke posisi MYR 2.125 per ton. Selama sepekan, harga CPO telah turun sebesar 2,92 persen secara point-to-point. Adapun sejak awal tahun, harga komoditas agrikultur andalan Indonesia dan Malaysia ini tercatat naik 0,19 persen.

Pelaku pasar memprediksi ekspor minyak sawit Malaysia periode Februari akan mengalami kontraksi 13 persen dibanding bulan Januari. "Secara fundamental, pasar masih lemah. Kami tidak belum bisa melihat dari mana permintaan akan datang," ujar pialang yang berbasis di Kuala Lumpur, seperti dikutip dari Reuters.

Data ekspor minyak sawit Malaysia akan dirilis hari Senin (11/3) oleh Malaysia Palm Oil Board (MPOB). DI sisi lain, harga minyak kedelai di bursa Chicago juga turun 0,3 persen pada akhir pekan lalu yang ikut menarik harga CPO ke bawah.

Tren pelemahan harga CPO masih akan berlanjut. Dinilai pelemahan harga CPO disebabkan beberapa faktor. Pertama, kekhawatiran perdang dagang antara AS (Amerika Serikat) dan China. Perang dagang antara AS dengan China akan berakhir pada akhir Maret ini.

Kesepakatan ini akan disebut dalma pertmeuan antara Donald Trump dan Xi Jinping dalam beberapa pekan ke depan. "Pelaku pasar masih khawatir karena belum jelas apakah sepakat atau tidak," ujar Deddy Yusuf Siregar, Analis Asia Trade Point Futures.

Faktor selain itu, perlambatan ekonomi di China yang diproyeksi tumbuh 6 persen sampai 6,5 persen. Tak hanya perlambatan ekonomi, pengaruh ekspor China juga menurun. "Nah ini berdampak ke harga CPO karena China merupakan pengimpor terbesar untuk produk CPO," kata Deddy.

Diakui turut melemahkan harga CPO. Tingkat ekspor Februari yang turun 20,7 persen dan impor yang turun 5,2 persen dari tahun sebelumnya, memberi dampak buruk. Terakhir, adalah faktor produksi CPO di Malaysia yang diperkirakan hanya 20 juta ton dan China sekitar 43 juta ton.

Produksi CPO global sekitar 72 ton secara keseluruhan. "Jika dilihat secara tren, harga CPO memang masih melemah hingga kuartal II-2019. Tetapi semoga saja bisa naik menjelang ramadhan karena permintaan biasanya aik dari negara Timur Tengah," pungkas Deddy.

Diperkiraka harga CPO masih melemah. Diproyeksi bergerak di kisaran RM 2.150 sampai RM 2.120 per metrik ton. Sementara sepekan bergerak di kisaran Rm 2.170 sampai RM 2.000 per metrik ton. Secara teknikal, harga CPO bergerak di bawah garis MA 50, 100 dan 200.

Kemudian indikator stochastic di area 21, begitu pula dengan indikator RSI di area 36 yang cenderung melemah. MACD juga berada di area negatif sehingga direkomendasikan untuk dijual. Mengutip Bloomberg, harga kontrak pengiriman Mei 2019 di Malaysia Derivatice Exvhange pada Jumat, berada di level RM 2.126 per metrik ton saat pukul 16.59.

You can share this post!

Comments