ADB: Kawasan Ekonomi Khusus Dorong Perdagangan-Investasi

thumb_20151204_Dolar_As_Jatuh_Setelah_Keputusan_ECB_Kecewakan_PasarJakarta – Bank Pembangunan Asia (ADB) menyatakan kawasan ekonomi khusus (KEK) merupakan sarana yang bisa menjadi kekuatan pendorong untuk meningkatkan perdagangan, investasi dan reformasi ekonomi di Asia, termasuk Indonesia.

“Bila dirancang dengan benar, KEK dapat menjadi pendorong untuk meningkatkan perdagangan, penanaman modal asing (“foreign direct investment”/FDI), serta pembuatan kebijakan dan reformasi ekonomi yang lebih baik,” kata Ekonom Utama ADB Shang Jin Wei dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (8/12/2015).

Selain itu, ujar dia, saat sebuah negara kinerja perekonomiannya semakin berkembang, maka KEK juga dapat ditransformasikan dari lokasi manufaktur menjadi area penghubung untuk inovasi dan jasa modern lainnya.

Ia memaparkan bahwa perluasan jumlah KEK di Asia tercatat berkembang dari hanya 500 pada tahun 1995 menjadi 4.300 lebih pada tahun 2015 ini.

Berdasarkan kajian ADB, perkembangan jumlah KEK berkorelasi positif dengan kinerja ekspor secara keseluruhan di benua tersebut.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa ada pula KEK yang mengalami kegagalan, yang rata-rata disebabkan kurangnya fokus strategi dan adanya kesenjangan antara regulasi dan tata kelola yang membuat kinerja KEK memburuk.

Sedangkan KEK yang berkinerja baik dinilai dapat melakukan diversifikasi basis produk mereka menjauh dari bahan baku yang diimpor, serta meningkatkan penjualan dari merek mereka baik di pasar domestik maupun global dengan cara membangun ikatan yang lebih erat dengan perekonomian domestik.

Di Indonesia, Konsul Jenderal Amerika Serikat di Sumatera, Robert Ewing mengatakan keberadaan KEK Pelabuhan Tanjung Api-Api yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2016, akan mendongkrak perekonomian Sumatera Selatan karena akan menghasilkan barang jadi.

“Selama ini Sumsel berkutat di sisi hulu saja, mulai dari perkebunan hingga mineral. Tapi dengan keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api (KEK TAA) ini, maka Sumsel dapat mengukuhkan posisinya juga di sektor industri dan bisnis,” kata Robert berbicara pada acara Forum Investasi Sumsel diselenggarakan Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah di Palembang, Selasa (1/12/2015).

Pada dasarnya, ia melanjutkan, pengusaha AS sangat tertarik untuk berinvestasi di Sumsel yang dikenal kaya akan sumber daya yakni perkebunan karet, sawit, dan mineral batu bara.

Hanya saja, AS berharap Indonesia dapat membenahi iklim investasinya sehingga para penanam modal relatif tidak memiliki banyak gangguan untuk menjalankan usaha.

Senada dengan Konjen AS, Duta Besar Inggris Raya, Moazzam Malik, setelah diterima Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jakarta, Senin (7/12/2015) mengatakan, iklim regulasi yang disebutnya sebagai salah satu tantangan terbesar dalam berinvestasi di Indonesia.

“Regulasinya terkadang tidak konsisten dan juga tidak transparan,” kata Moazzam Malik.

Namun, Moazzam Malik mengapresiasi tujuh paket kebijakan perekonomian yang telah dikeluarkan pemerintah RI namun langkah masih panjang sehingga Indonesia perlu membangun langkah untuk kemudahan berbisnisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *