China Masih Minati Investasi Properti, Terutama di Kota-Kota Kecil

Rumah SubsidiPemerintah China baru-baru ini mengambil langkah untuk memudahkan para pembeli properti dalam melakukan pembelian rumah di kota-kota tier lebih kecil. Meski demikian, real estat masih menjadi kelas aset favorit bagi investor China.

Demikian ungkap Kepala Penelitian Daerah Properti CLSA, Nicole Wong, seperti dilansir dari laman CNBC, Selasa (5/4/2016).

“Jika investasi di saham, mereka memiliki tapi (tidak bisa) mengendalikannya. Namun, dengan investasi properti, mereka memiliki dan mengendalikannya, sehingga (real estat) benar-benar kelas aset yang lebih baik,” kata Wong.

Harga rata-rata rumah di China naik tiga kali lipat antara 2003 dan pertengahan 2008, tetapi meredam pada semester II-2008 akibat ketidakpastian ekonomi yang dibawa oleh krisis keuangan global.

Kemudian pada November 2008, China mengumumkan paket stimulus 4 triliun yuan atau setara Rp8.133 triliun (mengacu kurs Rp2.033 per yuan) yang membangkitkan booming-nya perumahan lain dan menyertai lonjakan utang yang memuncak pada 2013, sebelum pemerintah memprakarsai serangkaian langkah-langkah guna mendinginkan pasar properti.

Sementara pembuat kebijakan baru-baru ini mengambil beberapa langkah untuk memudahkan membeli rumah di kota-kota yang tier lebih rendah, tier kota pertama termasuk Shanghai dan Shenzhen yang dalam beberapa hari terakhir digulirkan langkah-langkah pengetatan, seperti lebih tingginya persyaratan pembayaran uang muka (down payment/DP) untuk pembelian rumah kedua.

“Langkah-langkah pengetatan yang sangat diantisipasi secara baik. Jika Anda melihat kota-kota tier pertama, ada pasokan (perumahan) sangat terbatas selama tiga sampai empat tahun terakhir, dan tiba-tiba semua permintaan datang, sehingga tidak ada cara lain tetapi hanya untuk menjaga (pembeli) pergi,” kata Wong.

Dia menambahkan, lonjakan minat beli investasi sebenarnya telah tertunda oleh rally pasar saham China pada kuartal pertama tahun lalu. Tapi pasar menjual dengan harga sangat rendah sejak pertengahan tahun lalu telah menghidupkan kembali minat tersebut. Meskipun harga properti di kota-kota tier pertama seperti Beijing dan Shanghai bergelombang, namun kota-kota kecil mungkin juga memiliki potensi.

“Ketika kita melihat AS, ada beberapa 20 pusat daerah termasuk kota-kota besar seperti New York, San Francisco dan juga tempat-tempat seperti San Diego. China adalah empat kali ukuran AS, sehingga tidak akan menjadi kejutan jika China memiliki sesuatu seperti 60 besar, kota yang relatif menyenangkan dalam beberapa tahun,” katanya. (Okezone)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *