Investor AS Diminta Taati Aturan

thumb_20151114_Investor_AS_Diminta_Taati_AturanJakarta- Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli menegaskan, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) harus memenuhi syarat-syarat yang diajukan pemerintah Indonesia jika ingin tetap mendapatkan izin konsesi di Indonesia.

Hal itu disampaikan Rizal seusai menerima 30 orang delegasi dari 27 perusahaan AS, termasuk Freeport McMoRan yang memiliki konsesi tambang dan emas di Indonesia. Mereka tergabung dalam US-ASEAN Business Council yang dipimpin Alexander C Feldman.

Rizal mencontohkan, pemerintah sudah mengajukan empat syarat kepada PT Freeport apabila ingin terus mendapatkan izin menambang di Indonesia. “Apabila semua persyaratan itu dipenuhi, bukan tidak mungkin terjadi kesepakatan,” kata Rizal di Jakarta, Kamis (12/11).

Delegasi Freeport yang hadir dalam pertemuan itu adalah Tim Russel King yang menjabat sebagai wakil presiden senior. Empat syarat yang diajukan pemerintah Indonesia adalah menjual 30 persen saham PT Freeport Indonesia ke pemerintah dan menaikkan royalti menjadi 6-7 persen untuk Indonesia.

Syarat lainnya, Rizal menyebutkan, Freeport harus membangun smelter dan perbaikan dalam pengolahan limbah. Di samping itu, Rizal menegaskan, pemerintah Indonesia tidak akan membahas perpanjangan kontrak PT Freeport hingga 2019 yang izinnya akan berakhir pada 2021.

Dalam pertemuan itu, Rizal menjelaskan adanya perubahan iklim investasi di Indonesia yang salah satunya terkait deregulasi perizinan. Penjelasan itu disampaikan setelah beberapa delegasi menanyakan soal iklim investasi di Indonesia.

“Ada berbagai paket deregulasi yang tujuannya adalah untuk mempermudah bisnis. Saya coba beri contoh, kalau ada investor yang masuk ke kawasan industri dulu butuh waktu enam bulan lebih (memproses perizinan), sekarang cukup sebentar hanya tiga jam,” ujar Rizal.

Presiden dan CEO US-ASEAN Business Council, Alexander C Feldman mengatakan, para delegasi perusahaan AS yang datang ke Indonesia berasal dari industri teknologi, informasi, migas, makanan dan minuman, manufaktur, serta keuangan.

“Kami berharap dapat memahami lebih baik regulasi yang ada. Dengan begitu kami dapat melakukan investasi di Indonesia,” kata mantan birokrat dari Partai Republik.

Sementara itu sejumlah investor AS sebenarnya sangat tertarik untuk menambah investasinya di Indonesia. Namun, mereka masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut dari pemerintah terkait aturan-aturan yang berlaku di sektor industri, seperti aturan terkait kewajiban pemenuhan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).

Senior Director, Business Development and Country Director of Indonesia Qualcomm, Shannedy Ong menambahkan, sejauh ini para investor AS yang telah berinvestasi di sektor industri di Indonesia belum mengetahui secara rinci mengenai mekanisme perhitungan TKDN. “Kami ingin mengetahui lebih jelas soal TKDN yang harus dipenuhi, bagaimana mekanisme dan penghitungannya,” kata Shannedy.

Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengharapkan, dari hasil kunjungan delegasi US-ASEAN Business Council ini akan lahir investasi-investasi baru di sektor industri telematika, industri logam, industri makanan dan minuman, serta bidang jasa logistik.

“Investasi dari AS tidak hanya soal angka besaran modal yang masuk. Nama-nama perusahaan besar juga berpengaruh menarik investasi dari negara lain ke Indonesia karena mereka rata-rata multinasional dan mengelola merek kelas global,” kata Menperin Saleh Husin.

Perusahaan AS yang memutar modalnya di Indonesia, antara lain Coca Cola, Google, IBM, Intel, HP, Merck, Nike, Philip Morris, Visa, Procter and Gamble, Boeing, dan Ford. Selain itu, di sektor energi dan tambang terdapat nama besar, seperti Chevron, Freeport, BP, dan ExxonMobil.

AS memang menjadi negara yang penting bagi Indonesia. Dari tahun 2010 hingga kuartal III/2015, nilai investasi negara itu menduduki peringkat tiga setelah Singapura dan Jepang mencapai US$ 8,24 miliar. Khusus untuk tahun ini yang terhitung sampai September, aliran investasinya mencapai US$ 853,7 juta.

Berdasarkan catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), pengusaha AS menanamkan uangnya antara lain di pertambangan, makanan, dan kimia atau farmasi.

“Porsi investasi sektor pertambangan mencapai 90 persen keseluruhan investasi Amerika di Indonesia,” ujar Ketua BKPM, Franky Sibarani. Nilai investasi di industri tambang mencapai US$ 7,2 miliar.(he/we)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *