Saatnya Merangkul Lebih Banyak Investor Lokal

umkmJakarta – Menyambut masyarakat ekonomi Asean (MEA) yang sudah di depan mata, tentunya selalu menjadi pertanyaan besar bagi bangsa Indonesia, apakah sudah siap atau belum. Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan bagi investor asing untuk merambah pasar di dalam negeri, tak ayal jauh sebelum penerapan MEA, perjanjian kerjasama bilateral seperti AFTA sudah diteken sehingga banyak pelaku usaha menyakini Indonesia paling siap. Begitu juga halnya dengan industri pasar modal.

Abiprayadi, Presiden Direktur PT Mandiri Sekuritas mengatakan, pasar modal Indonesia dinilai siap untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan untuk itu telah dipetakan inisiatif dan langkah untuk menuju ke sana,”BEI sebagai sentral penggerak industri pasar modal Indonesia perlu melaksanakan inisiatif yang strategis, taktis, serta memenuhi harapan seluruh pemangku kepentingan guna menghadapi persaingan dalam MEA 2020 dan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketujuh dunia pada tahun 2030,” ujarnya.

Menurutnya, dalam membangun kemapanan ekonomi, Indonesia perlu memperkuat pondasi utama yang salah satunya dimotori pasar modal. Namun faktanya, penetrasi investor lokal di pasar modal saat ini masih rendah dibanding dominasi asing. Ya, persoalan minimnya edukasi dan sosialisasi selalu menjadi alasan belum banyaknya investor lokal tertarik berinvestasi saham, ketimbang menabung. Apalagi, industri perbankan sudah lebih awal di kenal masyarakat sebelum pasar modal.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Hadad mengakui, mendorong investor lokal berinvestasi saham masih menjadi tantangan saat ini yang belum tuntas. Padahal, penguatan jumlah investor lokal di pasar modal ini jadi penting untuk mengurangi volatilitas akibat dampak ekonomi global.”Ini jadi tantangan bagaimana ketergantungan investor asing itu dikurangi agar volatilitas pasar keuangan kita lebih baik. Karena itu, dibutuhkan kestabilan di seluruh aspek sektor keuangan,” ujar Muliaman.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengembangan Kebijakan Strategis OJK, Imansyah menuturkan pemahaman masyarakat Indonesia untuk produk pasar modal memang masih minim ketimbang perbankan. Hal itu juga membuat literasi keuangan masyarakat Indonesia masih kalah jauh dibanding Thailand dan Singapura.”Kami lihat yang paling dipahami masyarakat Indonesia baru di perbankan. Sedangkan produk pasar modal belum banyak dipahami. Dengan pemahaman soal pasar modal yang masih minim, maka jadi PR di masterplan sektor keuangan,” ujar Imansyah.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) nilai kepemilikan saham oleh investor asing mencapai Rp 1.524,04 triliun pada September 2015. Angka ini memang turun sekitar Rp 318 triliun dari posisi September 2014 di kisaran Rp 1.842,79 triliun. Sedangkan posisi kepemilikan investor lokal mencapai Rp 888,66 miliar pada posisi September 2015 dari periode September 2014 di kisaran Rp 1,014 triliun.

Sadar betul pentingnya peranan investor lokal di pasar modal, OJK bersama Self Regulatory Organizations (SRO) mulai melakukan terobosa untuk menjangkau pasar modal bagi masyarakat. Bahkan merubah kesan negatif, bila pasar modal hanya itu para pemodal besar. Belum lama ini, program Yuk Nabung Saham digulirkan dengan tujuan merubah prilaku masyarakat dari menabung menjadi berinvestasi.

Merubah Prilaku

Kata Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Nicki Hogan, gerakan program Yuk Nabung Saham diharapkan menjadi fasilitas yang mudah bagi masyarakat dalam membeli saham. Menurutnya, program Yuk Nabung Saham sama halnya seperti menabung uang di bank, namun yang membedakannya yaitu uang yang ditabung akan dibelikan saham. Pemilihan sahamnya pun dapat ditentukan oleh penabung ataupun dari pihak sekuritasnya tetapi atas persetujuan penabung.”Masyarakat tinggal datang ke sekuritas, mendaftar program Yuk Nabung Saham. Sekarang sudah ada 20 Anggota Bursa yang sudah diajak bicara mengenai program ini,” tutur Nicki.

Adanya nabung saham, Nicki berharap masyarakat tidak asing lagi dengan dunia pasar modal. Selain itu, program ini akan mendidik masyarakat untuk bijak dalam menyikapi uang yang dimilikinya.”‎Modal awalnya terjangkau, banyak broker memberlakukan modal awal Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu, karena untuk jadi investor tidak harus jutaan rupiah, jadi awalnya Rp 100 ribu, kemudian setiap bulan nabung lagi Rp 100 ribu dan seterusnya,” paparnya.

‎Ketika program Yuk Nabung Saham sudah berjalan, BEI menargetkan penambahan investor lokal akan terjadi, dimana saat ini jumlah investor lokal baru mencapai 420 ribu. Tidak hanya itu, dalam rangka menjangkau luas akses pasar modal di masyarakat, BEI juga mewajibkan perusahaan tercatat atau emiten untuk memenuhi aturan free float saham atau pemenuhan batas saham publik yang beredar menjadi 7,5% pada tahun depan dan bahan terus ditambah menjadi 40%.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida menyambut baik kebijakan tersebut dan berharap besar bisa memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan jumlah investor lokal yang saat ini masih jauh dari harapan. Hal ini dimaksudkan pula guna meningkatkan likuiditas di pasar modal agar memiliki daya saing dengan industri pasar modal di negara tetangga lainnya.

Nurhaida menuturkan, jika perusahaan-perusahaan yang melantai di BEI juga dapat menambah jumlah saham yang dilepas ke publik, nantinya akan terjadi keseimbangan antara permintaan dan suplai yang ada di pasar. Maka dengan demikian, masyarakat tidak lagi dibatasi stigma negatif bila pasar modal hanya untuk pemodal besar dan bukan investor kecil. (He/nr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *