WNI di London Ingin Berinvestasi Syariah

thumb_20151125_OJK_Dukung_Bunga_UKM_Lebih_Rendah_dari_KorporasiLondon – Warga Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan Indonesia Networking UK (Induk) yang anggotanya para pekerja domestik di Inggris berkeinginan untuk bisa berinvestasi secara syariah.

Konsultan Sakinah Finance yang juga dosen di Essex University Murniati Mukhlisin mengatakan hal itu dalam pertemuan bulanan Induk di gedung Kedutaan Besar RI (KBRI) London, Minggu (17/1/2016) waktu setempat.

Sejak dua tahun ini, KBRI London mempercayakan Murniati Mukhlisin dan Luqyan Tamanni dari tim Sakinah Finance untun memberikan kajian tentang keuangan syariah kepada anggota Induk.

Murniati Mukhlisin dalam pertemuan memberikan pengarahan mulai dari membuat perencanaan keuangan keluarga baik teori maupun praktik, disiplin pencatatan, mengatur keadaan saat defisit, dan juga cara mengatasi keuangan saat surplus.

Ketua Induk, Tuti Musbet mengatakan bahwa seorang pekerja bisa berhemat setiap bulan dan bahkan bisa menyisihkan sekitar 500 poundsterling setiap bulannya atau sekitar Rp10 juta.

“Ini bisa menjadi tabungan untuk masa depan. Untuk itu diperlukan pengarahan bagaimana berinvestasi sesuai syariah,” ujar Tuti.

Bukan hanya berbagai jenis investasi syariah yang dikenalkan tapi juga niat, tujuan, pemahaman syariah dan tipe kecenderungan resiko seseorang.

Murniati memaparkan jenis investasi jangka pendek di Inggris bisa berupa deposito syariah berjangka 12 hingga 36 bulan, Individual Saving Account bagi hasilnya tidak terkena pajak termasuk Young Person Notice Account untuk anak yang dananya bisa dicairkan ketika berusia 14 tahun.

Selain itu, bisa juga memilih Islamic unit trust, saham syariah atau menjalankan peluang bisnis.

Menurut Murniati Mukhlisin, jika ingin berinvestasi di Indonesia, terdapat lebih banyak lembaga keuangan syariah termasuk asuransi syariah yang menawarkan produk dan jasa yang beragam, namun syaratnya harus di Indonesia jika ingin menjadi nasabah atau peserta.

Sementara itu Pembina Induk, Siti Wahadi mengatakan bahwa perkumpulan Induk awalnya dibentuk untuk membantu para pekerja domestik untuk belajar bahasa Inggris dan akhirnya meningkat dengan digelarnya berbagai seminar dan pelatihan wirausaha dan belajar keagamaan. (He/rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *