• Indonesia
Jika Terpilih, Sandiaga ingin Sri Mulyani Jadi Menterinya
Berita

Jika Terpilih, Sandiaga ingin Sri Mulyani Jadi Menterinya

Cawapres Indonesia Nomor Urut 02, Sandiaga Uno, menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani, soal outlook ekonomi dunia tahun 2019. Menurutnya, Indonesia jangan terperangkap dalam perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Sandiaga melihat 2019 adalah momentum terbaik, khususnya untuk membangun ekonomi Indonesia. Caranya adalah dengan melakukan reformasi struktural dengan kepemimpinan tegas seperti yang akan dijalankan pasangan capresnya, Prabowo Subianto."Kita tidak boleh terombang-ambing dengan agenda perang dagang AS dan China. Kita harus intinya menari di genderang sendiri," kata Sandiaga.

Sebelumnya, Sri mengatakan ekonomi dunia 2019 masih diselimuti dengan ketidakpastian. "Bu Sri Mulyani perlu pemerintahan yang kuat. Perlu pemerintahan dan kepemimpinan yang tegas seperti Pak Prabowo untuk menjalankan ini. Ini salah satu kesempatan baik kita memperbaiki internal ekonomi kita," kata Sandiaga.

Perang dagang antara AS dan China serta kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) menjadi dua hal yang paling jadi perhatian. "Kita akan memasuki 2019 dengan banyak sense ketidakpastian. Seluruh risiko down side mulai terjadi," kata Sri.

Sandiaga mengaku prihatin akan enraca perdagangan yang mengalami defisit. Bahkan, ia memprediksi rendahnya perekonomian Indonesia karena tidak ada pastian atau kebijakan yang membuat orang mau berinvestasi dan melakukan kegiatan ekonomi. Sandiaga menyinggung Sri yang sudah tahu solusi mengatasi defisit tersebut. "Bu Sri sudah tahu (solusinya). Tapi Bu Sri perlu pemerintahan yang kuat dengan yang kepemimpinan tegas seperti Pak Prabowo untuk menjalankannya," ucap Sandiaga.

Ia juga tidak menampik turunnya neraca perdagangan karena dipengaruhi perang dagang antara AS dengan Tiongkok. "Kalau Pak Prabowo itu jadi bosnya Bu Sri Mulyani, itu reformasi struktural akan jalan karena butuh kepemimpinan yang kuat. Dengan kepemimpinan yang tegas, tidak gampang diubah-ubah karena tentunya kepentingan-kepentingan yang non struktural dan kepentingan politik tentunya ini yang harus jadi landasan kita," jelas Sandiaga.

Meskipun demikian, ia berpendapat seharusnya Indonesia tidak terombang-ambing dan bisa mengambil kesempatan untuk membenahi perekonomian. Sri memperkirakan neraca akan mengalami defisit. Namun defisit tersebut berada di angka 3 persen.

Dijelaskan komoditas ekspor harus dilihat dengan hati-hati. Selain itu, akan diupayakan perbaikan dari sisi neraca perdagangan dan transaksi berjalan dari capital flow. Sepanjang bulan lalu, neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit 2,05 miliar dolar AS seiring besarnya defisit di neraca migas.

Nilai defisit itu disebabkan posisi neraca ekspor yang tercatat sebesar 14,38 miliar dolar AS atau lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor sebesar 16,88 miliar dolar AS. Nilai ekspor per November turun 6,69 persen menjadi 14,83 miliar dolar AS disebabkan oleh penurunan ekspor migas.

Ekspor hasil minyak mentah dan gas juga turun. Sementara itu, ekspor non migas juga turun sebesar 6,25 persen dari bulan sebelumnya.

You can share this post!

Comments