• Indonesia
Kemitraan Turut Membantu Pengelolaan Kebun Sawit
Berita

Kemitraan Turut Membantu Pengelolaan Kebun Sawit

Produktivitas perkebunan kelapa sawit yang dikelola petani swadaya masih tergolong rendah. Yakni berkisar 16 sampai 18 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektar per tahun. Jika dirata-rata, TBS tersebut hanya mampu menghasilkan minyak sekitar 1,52 ton per hektar per tahun. Belum lagi tingkat rendemen juga masih di bawah 20 persen.

Usai tanaman kelapa sawit yang sudah tua menjadi salah satu penyebab rendahnya produktivitas tersebut. Selain itu, pola pengelolaan perkebunan kelapa sawit rakyat yang belum standar juga infrastruktur dan manajemen pengangkutan yang kurangĀ  baik juga menjadi penyebabnya. Oleh karena itu dikembangkan pola kemitraan yang sesuai dengan kondisi petan untuk meningkatkan produktivitas.

Segala kompetensi dapat pula dikembangkan untuk masyarakat. Pada akhirnya, kompetensi mendukung keberhasilan peningkatan produktivitas. Manfaat kemitraan dirasakan oleh koperasi maupun petani. Petansi besar dari kemitraan dan menyebabkan koperasi juga menjadi kuat.

"Pihaknya sangat terbantu dalam pengelolaan kebun. Program KMMT membantu kami mengelola transportasi, terutama pada saat TBS banyak. KUD yang telah mendapatkan sertifikat ISPO ini juga merasa sangat terbantu dalam pengelolaan panen," ungkap Riswanto, Ketua KUD Karya Mukti.

Selain penyuluhan pada bidang budidaya, kemitraan juga banyak memberikan pelatihan kompetisi lain seperti penggunaan GPS untuk mengukur dan menentukan posisi kebun masyarakat. Pengukuran menggunakan GPS sangat penting untuk koperasi dalamrangka mendukung program kerja kelapa sawit berkelanjutan dan prinsip ketelusuran.

Kelapa sawit merupakan komoditas ekspor Indonesia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, di tahun 2017, nilai ekspor produk kelapa sawit melampaui ekspor migas Indonesia dan jauh di atas ekspor lima komoditas perkebunan Indonesia lainnya seperti karet, kakao, kopi, tebu dan teh.

Namun saat ini, industri kelapa sawit dihadapkan pada tantangan maraknya presepsi negatif antara para pemangku kepentingan. Baik yang berada di dalam maupun di luar Indonesia. Kelapa sawit adalah minyak nabati yang paling memenuhi ekspetasi kriteria SDGs bila dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.

Tanpa kelapa sawit, akan sangat sulit melakukan pencapaian SDGs dan hal ini bukan hanya untuk Indonesia, namun juga seluruh dunia. Saat ini, pemerintah Indonesia telah mengambil posisi yang tegas dalam mengambil langkah-langkah tegas untuk memastikan industri sawit tidak mendapatkan diskriminasi dari pasar internasional.

"Melalui kegiatan seperti smart seed, program kunjungan dan loka karya, kami mengajak para pemasok untuk bermitra dan bersama-sama menerapkan praktek berkelanjutan di industri kelapa sawit," kata Agus Purnomo, Managing Director Sutainability and Strategic Stakeholders Engagement Sinar Mas Agribusiness anda Food.

Di sisi lain, adanya rencana Uni Eropa untuk phasing out biofuel berbasis kelapa sawit pada tahun 2021 adalah berdasarkan alasan-alasan sosial dan lingkungan utamanya kerusakan hutan. Keputusan Uni Eropa ini tidak datang tiba-tiba. Sudah sejak lama tekanan terhadap impor minyak sawit mendapat tekanan besar. Utamanya dengna alsan-alasan lingkungan.

You can share this post!

Comments