• Indonesia
Laba Perbankan Turun, Ini Sektor yang Diprediksi Bisa Tumbuh
Keuangan

Laba Perbankan Turun, Ini Sektor yang Diprediksi Bisa Tumbuh

Keuntungan perbankan pada bulan Agustus lalu masih mengalami penurunan cukup dalam akibat permintaan kredit yang terus menurun dan dana masyarakat yang masih tumbuh signifikan. Berdasarkan keterangan dari lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba sebelum pajak perbankan turun sebesar 18,36 persen secara tahunan pada bulan Agustus tahun ini.

Penurunan ini karena pertumbuhan kredit bulan Agustus tahun ini hanya sebesar 1,04 persen. Pertumbuhan kredit bulan Agustus lebih lambat dari bulan Juni yang hanya 1,53 persen. Di samping itu, pertumbuhan dana pihak ketiga masih cukup kuat dan bisa mencapai 11,64 persen yoy. Angka tersebut membuat rasio loan to deposit rasio turun lebih rendah ke angka 85,11 persen.

Wimboh Santoso Ketua Dewan Komisioner OJK mengatakan bahwa perekonomian nasional tahun ini sangat terkena imbas dari pandemi Covid-19. Dampak negatif dari pandemi yang terjadi di sektor riil akan dirasakan juga di sektor keuangan. Bank tidak bisa menutup biaya bunga karena profitabilitas bulan Agustus tahun ini menurun.

Profitabilitas perbankan juga turun sebesar 18,99 persen pada bulan Juli. Selain itu, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan pada bulan Agustus tercatat sebesar 4,43 persen. Terjadi penurunan tipis dari realisasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,44 persen. Wimboh tidak menampik bahwa penurunan laba bank cukup besar di tahun ini. Penurunan laba yang terjadi bisa berkisar 30 persen hingga 40 persen.

Ketua Dewan Komisioner OJK itu mengatakan bahwa sejauh ini perbankan sudah melakukan restrukturisasi hampir Rp. 900 triliun. Restrukturisasi ini tidak hanya akan menggangu arus kas masuk dari perbankan, tetapi juga mengganggu pendapatan bunga, di mana bank juga banyak memberikan insentif suku bunga.

Namun, Wimboh berharap langkah digitalisasi yang dilakukan perbankan sejauh ini mampu memberi sedikit kompensasi bunga dan pendapatan fee. Perbankan akan menguatkan digital banking dan akan bekerja sama dengan lembaga keuangan mikro serta market place.

Meskipun permintaan kredit perbankan pada pertengahan kuartal ketiga masih turun, para banker melihat masih ada beberapa sektor yang berpeluang untuk mengalami pertumbuhan, walaupun tidak signifikan.

Sis Apik Wijayanto Direktur PT Bank Negara Indonesia Tbk. sekaligus pengurus pusat Perbanas mengungkapkan tahun ini perbankan masih memiliki peluang untuk tumbuh secara konservatif pada sejumlah sektor seperti kesehatan, makanan dan minuman, serta sektor telekomunikasi.

Sis Apik Wijayanto juga dalam webinar yang digelar oleh Perbanas mengatakan dengan adanya relaksasi restrukturisasi kredit yang akan diperpanjang lagi akan sangat membantu debitur-debitur yang masih memiliki potensi bertahan untuk bisa terus memakai kredit perbankan. Perbankan juga melakukan efisiensi operasional sebagai strategi utama mereka di masa pandemi Covid-19.

Efisiensi operasional dilakukan dengan cara menyediakan layanan digital banking. Layanan digital banking sangat membantu dan bisa sedikit mendongkrak pendapatan fee pelaku intermediator. Pengembangan layanan digital ini ditujukan pula untuk mengikuti perubahan tren perilaku masyarakat yang semakin aktif di dunia digital.

Pahala N Mansyuri Direktur dari PT Bank Tabungan Negara Tbk. Sekaligus Wakil Ketua Umum Perbanas mengatakan bahwa potensi penurunan dan perlambatan pertumbuhan kredit dan peningkatan restrukturisasi kredit tidak bisa dihindari oleh perbankan. Namun, Pahala lebih mengkhawatirkan pelaku UMKM dalam menghadapi resesi tahun ini.

Ketahanan UMKM harus masih terus dipantau. Bisakah mereka bangkit kembali atau tidak. Berapa banyak yang bisa bertahan dan berapa yang tidak bisa bertahan. Daya tahan industri perbankan sangat bergantung pada pelaku usaha dalam negeri. Sehingga, sangat dianjurkan kepada masyarakat untuk belanja hasil produk dalam negeri.

You can share this post!

Comments