• Indonesia
Lika-liku Saham Boeing Setelah Dua Kecelakaan Fatal
Bisnis

Lika-liku Saham Boeing Setelah Dua Kecelakaan Fatal

Masalah pesawat Boeing 737 Max berbuntut panjang. Kali ini giliran para pemegang saham Boeing Co mengajukan gugatan ke pengadilan karena merasa tertipu oleh produsen pesawat AS (Amerika Serikat) tersebut. Pemegang saham Boeing, Richard Seeks, melayangkan gugatan Pengadilan Federal Chicago, AS sejak Selasa (9/4).

Gugatan ini ditujukan langsung kepada kepala CEO boewing Co, Dennis Muilenburg dan kepala keuangan perusahaan, Gregory Smith sebagai terlapor. Para pemegang saham menduga Boeing sengaja menyembunyikan adanya kekurangna dalam perakitan pesawat 737 MAX, sebelum dua insiden kecelakaan fatal terjadi.

Boeing pun dianggap lalai tidak memberikan fitur-fitur ekstra untuk mencegah kecelakaan yang terjadi pada Ethiopian Airlines maupun Lion Air. Jatuhnya pesawat milik Lion Air dan Ethiopian Airlines menewaskan 157 penumpang di Ethiopia dan 189 lainnya di Indonesia.

Dua kecelakaan fatal tersebut, membaut seluruh pesawat jenis 737 Max tidak bisa algi diterbangkan di semua negara. Akibatnya, nilai pasar Boeing anjlok hingga 34 miliar dolar AS dalam waktu dua pekan, sejak kecelakaan Ethiopian Airlines pada 10 Maret lalu.

Dalam poin gugatannya, Seek meminta ganti rugi atas dugaaan pelanggaran keselamatan. Boeing dianggap hanya ingin meraup keuntungan dan mengejar pertumbuhan dengan memasukan 737 Max yang belum laik ke pasar untuk bersaing dengan Airbus SE. Seeks telah membeli 300 saham Boeing pada awal Maret 2019, kemudian menjual rugi pada dua pekan terakhir.

Gugatan menuntut ganti rugi juga diajukan investor lainnya yang membeli saham di Boeing sepanjang 8 Januari hingga 21 Maret lalu. Sebelumnya, pemegang saham Boeing telah dihadapkan gugatan dari para keluarga korban pesawat jenis 737 Max.

Boeing juga pernah menyatakan kejadian ini tak hanya berbuntut gugatan, tapi juga kemerosotan bisnis. Pesanan pesawat Boeing anjlok menjadi hanya 95 unit dari 180 unit di tahun sebelumnya. Bahkan tak ada satu pun pesananan pesawat jenis 737 Max.

Di awal bulan ini, Boeing memutuskan memangkas produksi pesawat 737 Max dari 52 unit menjadi hanya 42 unit. Di sisi lain, perusahaan pengembangna properti, PT Capri Nusa Satu Properti Tbk (CPRI) resmi mencatatkan saham perdana di papan pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini, Kamis (11/4). Saat debut perdana, saham emiten dengan kode saham CPRI itu melejit 20 persen ke level Rp 150 per saham.

Kemudian kembali terkerek 60 persen ke level RP 202 per saham. Pada perdagangan 10.11 WIB, saham CPRI naik 51,20 persen di level Rp 189 per saham dari harga perdana yang dipatok di level Rp 125 per saham. Dengan demikian, saham CPRI hampir terkena auto reject atau penolakan otomoatis oleh Jakarta automated trading system (JATS) karena kenaikan harga saham melebihi presentase tertinggi harian saat IPO.

You can share this post!

Comments