• Indonesia
Memperkirakan Bunga Acuan Tahun Depan
Analisa

Memperkirakan Bunga Acuan Tahun Depan

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memaparkan penguatan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan. Sayangnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (Amerika Serikat) masih uncervalue atau terlalu murah walau menguat.

Nilai tukar dari kemarin bergerak stabil, cenderung menguat meskipun dari sisi globalnya itu terjadi ketidakpastian karena pengumuman bunga acuan AS (Fed Fund Rate) yang memang sejumlah pelaku pasar mengestimasi kalau tahun depan hanya naik satu kali.

Tapi kemarin probalitasnya dua kali. "BI tetap memperkirakan tahun depan naik tiga kali meskipun probabilitasnya mengarah ke dua kali sebagaimana kita cermati dari pengumuman The Fed," kata Perry.

Sementara itu, diperkirakan kenaikan suku bunga AS hanya akan terjadi satu kali di tahun depan. "Kami memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed di tahun depan kemungkinan, bahkan bisa satu kali. Kami tidak dovish, tapi less hawkish," kata Fikri C. Permana, Ekonom Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Diprediksi tahun depan, AS akan lebih gencar melakukan stimulus ekonomi dengan menerbitkan surat utang di tahun depan. Kemudian jika surat utang ini membanjiri pasar, umumnya harga akan turun seiring dengan bertambahnya supply di pasar surat utang AS.

Turunnya harga akan menyebabkan naiknya tingkat imbal hasil (yield) US Trasury. Kenaikan yield US treasury dapat juga memicu kenaikan yield surat utang negara di pasar domestik. Jika kondisi tersebut terjadi, berarti pasar obligasi Indonesia berpotensi terkoreksi juga, begitu juga dengan pasar obligasi korporasi.

Tahun depan, lembaga rating ini memprediksi penerbitan surat utang korporasi masih stagnan. Potensi penerbitan surat utang korporasi di tahun 2019, diprediksi mencapai Rp 135,2 triliun sepanjang tahun. Tak jauh berbeda dengan prediksi full year tahun ini yang senilai Rp 135 triliun.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) cukup agresif menaikkan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) tahun ini hingga enam kali dengan total kenaikan 175 basis poin (BPS) sepanjang 2018. Bank sentral memutuskan untuk menahan tingkat suku bunga acuan di level 6 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Desember 2018.

BI mengeluarkan manuver kenaikan suku bunga acuan untuk mengimbangi sikap The Fed yang tak kalah agresif. The Fed menaikkan suku bunga sebanyak empat kali sepanjang 2018. Suku bunga acuan FFR saat ini berada di level 2,25 sampai 2,5 persen.

Kenaikan suku bunga acuan bukan tanpa konsekuensi. Meningkatnya suku bunga acuan turut mengerek suku bunga perbankan, baik bunga deposito maupun kredit. Pada akhirnya, kenaikan bunga kredit berdampak signigikan terhadap sektor riil karena banyak pelaku usaha menggunakan pinjaman bank sebagai modal usaha.

You can share this post!

Comments