• Indonesia
Mencegah Bank Umum Kelompok Usaha Berlomba Menaikkan Bunga
Artikel

Mencegah Bank Umum Kelompok Usaha Berlomba Menaikkan Bunga

Perang suku bunga deposito antar bank demi berebut dna pihak ketiga (DPK) yang makin sengit, regulator didesak agar membuat regulasi yang mengatur suku bunga deposito perbankan. Pengaturan ini diperlukan agar perbankan tetap kondusif di tengah ketatnya likuiditas perbankan.

"Jangan sampai masing-masing BUKU (Bank Umum Kelompok Usaha) berlomba menaikkan bunga," ujar Maryono, Ketua Himbara (Himpunan Bank Milik Negara).

Bank Indonesia (BI) menaikkan enam kali suku bunga acuna hingga 175 basis poin (bps) sepanjang 2018. Di sisi lain, beberapa bank juga turut mengerek bunganya dengan niat menghimpun lebih banya dana. "Di Himbara, kami tidak sekadar mengikuti tren suku bunga. Tapi kami lebih menjaga kualitas kredit dan stabilisasi sektor riil," kata Maryono.

Meski mendesak agar suku bunga deposito diatur, capping alias penentuan batas atas dan bawah suku bunga belum perlu dilakukan. "Dibuat fleksibel saja pengaturannya," lanjut Maryono.

Upaya itu diperlukan untuk mencegah perang suku bunga di tengah perang persaingan likuiditas. Ada isyarat likuiditas perbankan dalam negeri cukup seret. Kondisi ini tercermin dari rasio volume kredit terhadap penerimaan dana atau Loan to Deposito Rasio (LDR) perbankan mencapai 92,59 persen per November 2018.

"Saya kira, kami perlu diatur lagi mengenai suku bunga dana karena kalau ini tidak diatur, apalagi dengan pengetatan likuiditas, maka tidak memberikan suasana kondusif," ujar Maryono.

Akibat likuiditas yang makin ketat, bank berlomba untuk menarik dana masyarakat. Salah satunya dengan mengerek suku bunga deposito. Dinilai bahwa industri perbankan membutuhkan pengaturan di tengah tekanan likuiditas. "Saya setuju harus ada suatu framework of arrangement untuk kategorisasi Bank Umum Kelompok Usaha I hingga IV begitu ada likuiditas mengetat," terang Andreas Eddy Susetyo, Komisi XI DPR.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pernah menerbitkan kebijakan terkait penetapan batas atas bunga deposito yang berlaku pada Maret 2016 yang ditujukan kepada bank BUKU III dan IV. Dalam aturan itu disebutkan bahwa bank BUKU III yang memiliki modal inti Rp 5 triliun sampai Rp 30 riliun batas atas (capping) bunga deposito ditetapkan sebesar 100 poin di atas suku bunga acuan BI. 

OJK mencatat per November lalu, pertumbuhan penyaluran kredit industri perbankan sebesar 12,05 persen. Sedangkan pertumbuhan DPK hanya sebesar 7,19 persen. Imbasnya, angka LDR tersebut mencerminkan kondisi likuiditas yang cukup ketat.

Sementara itu, Himbara menyatakan akan lebih giat mencari sumber pendanaan non konvensional. Dituturkan bahwa sumber pembiayaan perbankan tidak hanya berasal dari DPK. Penghimpunan dana alternatif akan mengacu kepada strategi bisnis masing-masing bank.

"Dana yang kami gunakan untuk kredit tidak semata-mata berasal dari DPK. Tapi bisa dari dana lainnya yang semua itu bisa memberikan keuntungan bagi masing-masing bank," kata Maryono.

You can share this post!

Comments