• Indonesia
Mengapa PPN Identik Ketika Kita Berbelanja?
Artikel

Mengapa PPN Identik Ketika Kita Berbelanja?

Ketika kita berbelanja di supermarket, minimarket atau di mall, seringkali kita menemukan istilah PPN atau VAT. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan PPN atau VAT? Bagi Anda yang berkewajiban melaporkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), tentu ingin menguasai cara menghitungnya.

Untuk memudahkan Anda mempelajari PPN, berikut ini bahasan mengenai contoh PPN dan cara menghitungnya. Tanpa panjang lebar lagi, simak penjelasan selengkapnya di bawah ini. PPN merupakan pajak yang dikenakan atas transaksi jual beli Barang Kena Pajak (BKP) dan atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang memiliki pertambahan nilai dan pungutan ini hanya boleh dilakukan dan dilaporkan oleh PKP.

Namun pihak yang berkewajiban membayarkan PPN adalah konsumen akhir. Berdasrakan ketentuan pasal 7 Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009, berikut ini uraian tarif PPN di Indonesia. Pertama, tarif PPN sebesar 10 persen, kedua tarif PPN sebesar 0 persen dikenakan atas ekspor barang kena pajak berwujud, ekspor barang kena pajak tidak berwujud dan ekspor jasa kena pajak.

Ketiga, tarif PPN yang dimaksud pada poin pertama bisa saja berubah menjadi paling rendah 5 persen dan paling tinggi 15 persen sebagaimana diatur dalam peraturan pemerintah. Pada umumnya, cara menghitung PPN adalah dengan mengalikan tarif PPN dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP).

Seperti pengertian PPN yang dikenakan hanya pada marjin atua pertambahan nilai dari suatu barang dan jasa. Artinya, untuk mendapat besaran PPN, kita tinggal menghitung berapa marjin barang atau jasa atau selisih antara harga jual dan harga beli dikalikan dengan tarif yang berlaku.

Namun ternyata, menghitung PPN tidak sesederhana itu. Untuk mengetahui berapa besaran PPN yang terutang di suatu bulan, kita terlebih dahulu harus menghitung PPN Keluaran dan PPN Masukan.

PPN Keluaran dikenakan saat kita menjual barang kepada konsumen. Jika kita adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP) maka kita diwajibkan memungut PPN sehingga setiap transaksi penjualan kita harus disertakan PPN.

Dalam PPN keluaran yang akan menanggung PPN adalah konsumen kita. PPN Masukan dikenakan saat kita membeli barang dari supplier atau vendor. Agar dapat membukukan PPN Masukan, Anda harus memastikan bahwa supplier atua vendor Anda juga merupakan Pengusaha Kena Pajak (PKP).

You can share this post!

Comments