• Indonesia
Neraca Perdagangan Masih Menjadi Persoalan Indonesia
Keuangan

Neraca Perdagangan Masih Menjadi Persoalan Indonesia

Bank Indonesia (BI) memandang neraca perdagangan juga masih menjadi persoalan Indonesia. Laju impor relatif lebih cepat dibandingkan dengan ekspor. Laju impor juga belum dapat ditekan secara maksimal.

Namun tingginya impor bagi suatu negara yang sedang berkembang menandakan adanya pertumbuhan ekonomi. Apalagi laju impor non migas saat ini paling banyak di bahan baku yang naik 22,59 persen pada Oktober lalu, disusul oleh impomr barang modal yang naik 15,57 persen.

Pada akhir Oktober lalu, defisit neraca dagang Indonesia mencapai 1,82 dolar AS (Amerika Serikat), melebar dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini lantaran laju ekspor yang hanya 15,8 miliar dolar AS lebih rendah dari laju impor yang mencapai 17,63 miliar dolar AS.

"Kita harus jujur melihatnya. Apa ada yang salah seperti ini? Trade balance 1,8 miliar dolar AS tanpa melakukan kalibrasi apa-apa penyebabnya, tidak baik bagi perekonomian. Tapi bagi ekonomi yang tumbuh, impor besar ini adalah suatu konsekuensi," ujar Dody Waluyo, Deputi Gubernur BI.

Namun demikian, dengan kebijakan moneter berupa kenaikan suku bunga acuan ke level 6 persen saat ini akan mempengaruhi neraca dagang. Dengan kenaikan suku bunga, maka defisit neraca dagang dapat ditekan.

Dengan suku bunga yang naik, maka laju investasi akan menurun. Hal ini lantaran investasi yang memiliki risiko lebih tinggi seperti saham akan lebih berkurang dan investor akan memilih investasi jangka panjang seperti deposito.

Akibatnya, laju impor juga diharapkan akan berkurang. "Gambaran ke depan, suku bunga meningkat akan berpengaruh ke investasi dan impor. Trade balance akan berkurang seiring dengan investasi yang berkurang," jelas Dody.

Sedangkan secara akumulatif juga dari Januari sampai Oktober, neraca dengan tercatat sudah minus 5,51 miliar dolar AS. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi defisit neraca dagang tersebut. Hal itu karena impor sulit direm dan tingginya impor lantaran ekonomi Indonesia terus tumbuh.

Sementara itu, kemampuan dalam negeri untuk memproduksi kebutuhan tersebut tidak cukup mumpuni. "Impornya ngga mau direm. Kalau dengan pertumbuhan yang tadi saya singgung kuartal III 5,17 persen. Kalau Ekonomi tumbuh, artinya apa? Perlu impor karena banyak sekali yang tidak kita hasilkan," kata Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Sementara ekspor melambat, ada dua hal yang mempengaruhi impor. Pertama, ekspor Indonesia masih didominasi oleh sumber daya alam seperti pertambangan, perkebungan, kehutanan dan lain-lain. "Kebetulan, faktanya turun dia harganya," ujar Darmin.

Kedua, melambatnya ekspor karena dampak perang dagang antar AS dan China. Dampak perang dagang ini membuat ekonomi China melambat sehingga kebutuhan barang mentah berkurang. "Dampak tidak langsung perang dagang, China pertumbuhan ekonomi melambat karena kebutuhan bahan mentah yang kita ekspor melambat. Artinya, ekspor kita melambat," papar Darmin.

You can share this post!

Comments