• Indonesia
Ongkos Bayar Utang Indonesia Meninggi
Keuangan

Ongkos Bayar Utang Indonesia Meninggi

Pelemahan nilai tukar rupiah juga akan berdampak pada belanja negara, khususnya pada belanja pembayaran bunga utang pemerintah. Adapun pembayaran utang hingga akhir tahun ini, dianggarkan sebesar Rp 238,6 triliun. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan pihaknya tetap meawaspadai kenaikan bunga utang yang disebabkan oleh tingginya volatilitas di pasar keuangan.

Bahkan menurutnya, belanja bunga utang adalah belanja yang paling sensitif terhadap tekanan nilai tukar rupiah dibandingkan dengan belanja pemerintah. "Yield SPN (Surat Perbendaharaan Negara) meningkat. Ongkos bayar utang jadi tinggi. Suku bunga relatif mahal, kita sekarang harus hati-hati," kata Sri.

Adapun saat ini, imbal hasil atau yield SPN tiga bulan sebesar rata-rata 5,29 perse pada September 2018. Dengan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, yield SPN tiga bulan pelelangan berikutnya diperkirakan meningkat di kisaran 5,4 persen sampai 5,7 persen. Adapun yield yang tinggi pun bukan kabar baik bagi pemerintah.

Artinya, beban pembayaran bunga utang lebih tinggi dari yang ditargetkan. "Dengan kondisi yang ada, tingkat suku bunga SPN tiga bulan dalam lelang berikutnya 5,4 persen sampai 5,7 persen," tambah Sri. Berdasarkan data APBN, total utang pemerintah hingga Juli 2018 mencapai Rp 4.253 triliun, naik 12,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan utang tersebut turut mendorong pembayaran bunga utang bengkak 11,88 persen menjadri Rp 146,45 triliun. Saat ini, porsi pembayaran sudah mencapai 61,38 persen dari total pembayaran bunga utang sebesar Rp 238,6 triliun. Komposisi utang masih didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp 3.467 triliun atau mengambil 81,35 persen.

Sementara utang dari pinjaman menapai Rp 785,49 triliun. Kendati jumlah utang meningkat, rasio utang pemerintah per akhir Juli, sebesar 29,74 persen atau di bawah batas aman dalam undang-undang sebesar 60 persen. Hal ini juga terjadi seiring naiknya credit default swap (CDS) Indonesia.

Saat ini, SPN tiga bulan diperdagangkan 5,29 persen per September 2018. Kombinasi dari berbagai sentimen membuat persepsi risiko investasi Indonesia meningkat. Hal ini tercermin dari data CDS Indonesia di tenor lima tahun dan 10 tahun yang sama-sama mengalami tren kenaikan. CDS Indonesia tenor lima tahun berada di level 143,67 pada Kamis (6/9) lalu.

Kurang dari sepekan, CDS Indonesia tenor lima tahun sudah melonjak 16,07 persen. Bahkan, kemarin posisi CDS Indonesia mencapai 148,48 yang merupakan level tertingginya di tahun ini. Kenaikan juga terjadi pada CDS Indonesia tenor 10 tahun. Hingga Rabu (5/9) lalu, CDS Indonesia tenor 10 tahun berada di level 229,83 atau yang tertinggi di tahun ini.

Padahal, akhir Agustus lalu, CDS Indonesia tenor 10 tahun masih bertengger di posisi 208,83. Kementerian Keuangan negara juga mencatat penerimaan negara hingga 31 Agustus lalu, mencapai Rp 1.152,7 triliun. Realisasi penerimaan ini setara dengan 60,8 persen dari target Rp 1.894,7 triliun dalam APBN 2018.

Penerimaan negara tersebut meningkat 18,3 persen apabila dibandingkan periode yang sama di 2017 sebesar 11,3 persen. "Penerimaan negara kita Rp 1.152,7 per 31 Agustus 2018 atau 60,8 persen dari total penerimaan," jelas Sri.

You can share this post!

Comments