• Indonesia
Pantauan LPS Terhadap Pergerakan Dana Pihak Ketiga
Keuangan

Pantauan LPS Terhadap Pergerakan Dana Pihak Ketiga

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus memantau pergerakan dana pihak ketiga dari bank yang pindah ke luar negeri (capital outflow) untuk mengetahui kondisi likuiditas dalam konteks menjaga stabilitas ekonomi. Hasil pemantauan belum menemukan adanya gerakan capital outflow yang luar biasa.

"Kalau ada nasabah pindah dari satu bank ke bank lain memanfaatkan suku bunga yang lebih tinggi, itu biasa. Kami akan memantau apakah pergerakan dana pihak ketiga dalam batas yang aman atau tidak," kata Halim Alamsyah, Ketua Dewan Komisioner LPS.

Ia mengatakan bahwa LPS juga akan mengambil langkah penyesuasian tingkat bunga penjamin apabila memang faktor capital outflow disebabkan perbedaan suku bunga. "Orang menaruh uang di perbankan itu tidak hanya karena faktor suku bunga saja," ujar Halim.

Dia menegaskan bahwa otoritas sektor keuangan Indonesia berusaha untuk menjaga stabilitas, termasuk LPS. Dalam konteks menjaga stabilitas ini, otoritas tersebut mempertimbangkan adanya keseimbangan baru karena kondisi likuiditas, suku bunga dunia dan kebutuhan akan likuiditas dalam negeri berbeda.

Ia menjelaskan bahwa kondisi keuangan global berubah karena AS, Eropa dan negara-neara lain menghentikan kebijakan moneter pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE). "Lukuiditas yang disebarkan perlahan mereka tarik kembali. Dampaknya suku bunga dunia naik. Kalau kondisi ini berjalan, artinya, keseimbangan berubah lagi," kata Halim.

Ketika kondisi semacam itu terjadi, suku bunga harus dinaikan mengikuti acuan bank sentral di AS. Kurs rupiah juga terpaksa akan melemah karena uang yang masuk ke Indonesia kembali ke negara asal. Hal tersebut menyebabkan likuiditas berkurang.

Padahal, kebutuhan likuiditas di Indonesia masih tinggi karena pembangungan yang membutuhkan banyak dana. Otoritas moneter kemudian mengimbangi hal tersebut agar penarikan dana ke luar negeri jangan mengganggu kestabilan ekonomi. "Gejolak terjadi akrena orang sedang berhitung kembali mempelajari situasi," kata Halim.

Di sisi lain, seiring dengan membaiknya penyaluran kredit perbankan, total aset bank secara industri ikut naik. Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan per Juli 2018, menunjukan rata-rata total aset perbankan sudah tembus Rp 7.302,79 triliun.

Jumlah tersebut naik 9,1 persen secara taunan atau year-on-year (Yoy). Pengingkatan aset tersebut utamanya ditopang dari kenaikan kredit perbankan yang tumbuh 11,9 persen YoY per Juli 2018 menjadi Rp 5.029,62 triliun. Pertumbuhan aset perbankan selama ini sangat tergantung pada kondisi ekonomi serta siklus kegiatan usaha yang membaik.

"Perbankan sangat tergantung pada kondisi ekonomi. Sekarang cenderung naik, diikuti keyakinan membaik. Maka bank akan lebih berani ekspansi kredit. Artinya, kinerja juga akan membaik sampai ada shock yang membuat persepsi itu berubah, maka kinerja akan turun. Itulah tugas pembuat kebijakan memberikan informasi," ujar Halim.

You can share this post!

Comments