• Indonesia
Pengangguran, Ancaman Terbesar 2019
Artikel

Pengangguran, Ancaman Terbesar 2019

Pemerintah China saat ini tengah mendorong sejumlah kebijakan agar tingkat pengangguran tidak meningkat. Pasalnya, hal itu bisa menganggu pertumbuhan ekonomi mereka. Terjadi penutupan industri besar-besaran jelang perayaan tahun baru imlek hari ini, (17/1). Salah satu pabrik di wilayah ekspor Guandong dikatkan menutup pabrik mulai awal Desember 2018 dan pekerjaan diperkirakan tidak akan dilanjutkan sampai Maret nanti.

Survei juga menunjukan akan terjadi penginkatan pengangguran di sektor industri, terutama setelah AS (Amerika Serikat) menaikkan tarif barang terhadap China senilai 250 miliar dolar AS. Dijelaskan laporan pada 9 Januari menunjukan jumlah pekerja menurun sekitar 2,8 juta orang pada 374.000 perusahaan industri besar dalam 12 bulan hingga November.

"Kami pikir ancaman terbesar adalah meningkatnya pengangguran di tahun baru ini," kata Haibin Zhu, ekonom China sekaligus kepala China Equity Strategy JP Morgan.

Sementara itu, pemerintah China saat ini tengah meningkatkan program pelatihan kerja dan membuat beberapa kebijakan seperti pemotongan pajak untuk meredam angka pengangguran. Sebab, diperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat dari sekitar 6,5 persen menjadi hanya tumbuh di atas 6 persen. Dikatakan meningkatnya angka pengangguran karena adanya ketegangan perdagangan AS-Tiongkok.

Hal itu membuat pasar tenaga kerja menjadi tidak stabil. Angka pengangguran resmi di China saat ini berada di level terendah, yakni 4,8 persen pada bulan November 2018. Di sisi lain, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Indonesia sebanyak 6,87 juta dari total 133,94 juta jiwa angkatan kerja.

Meskipun mengalami penurunan, namun jumlah tersebut masih terhitung sangat banyak. Tentu saja lulusan sarjana menjadi salah satu penyumbang angka pengangguran terbesar. Setiap tahunnya, universitas meluluskan sedikitnya 700.000 sarjana baru.

Angka tersebut jika dijumlahkan dengan pengangguran dari jenjang pendidikan lain, maka bisa dibayangkan persaingan ketat dalam dunia kerja di Indonesia setiap tahunnya. Meskipun dinilai memiliki potensi besar dan tidak terbatas, namun banyak dari generasi milenial yang merupakan lulusan sarjana tetap menganggur.

Hal tersebut tidak luput dari faktor prefensi, yakni mereka cenderung memilih-milih pekerjaan. Kebanyakan lulusan sarjana enggan melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang mereka di perguruan tinggi. Akhirnya, mereka menganggur karena tidak menemukan pekerjaan yang cocok.

 

You can share this post!

Comments