• Indonesia
Penyebab Melonjaknya Harga Emas Antam
Analisa

Penyebab Melonjaknya Harga Emas Antam

PT Aneka Tambang Tbk (Antam) akan mengumumkan mitra PT Gag Nikel Risono dalam membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) di Pulau Gag, Raja Ampat, Papua Barat, pada Februari 2019. Saat ini, pemilihan mitra itu masih dalam tahap evaluasi.

Disiapkan studi kelayakan (feasibility study) dan melakukan proses perhitungan untuk menentukan besaran investasi. "Harusnya Februari 2019 sudah ada keputusan mitra," kata Risono, Presiden Direktur PT Gag Nikel.

Ada beberapa perusahaan yang ikut dalam seleksi menjadi mitra anak usaha Antam dalam membangun smelter. Dua perusahaan yang berasal dari China dan satu perusahaan dari Filipina. Smelter tersebut akan memiliki kapasitas 40.000 ton nikel per tahun.

Namun kapasitas itu masih belum final karena harus didiskusikan lagi dengan pemegang saham dan mitra. Pembangunan smelter ini sejalan dengan produksi Gag Nikel yang semakin meningkat. "Saat menggandeng mitra, tentunya semua harus diselaraskan," kata Risono.

Tahun ini ditargetkan produksi nikel bisa mencapai 1,8 juta ton. Sedangkan tahun 2020, diperkirakan sekitar 3 juta ton nikel. Adapun komoditas nikel yang diproduksi di wilayah tambang Pulau Gag memiliki kadar Co yang berkualitas. Nikel ini bisa dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan batrai lithium.

Gag Nikel yang 100 persen sahamnya dipegang Antam itu termasuk salah satu perusahaan yang diperbolehkan melakukan aktivitas pertambangan dengan sistem tambang terbuka di dalam kasawan hutan lindung. Ini mengacu Surat Keputusan Presiden No. 41 Tahun 2004.

Sementara itu, harga emas logam mulia acuan yang diproduksi Antam naik Rp 4.000 menjadi Rp 622.000 per gram dari sebelumnya Rp 618.000 per gram. Harga tiap emas Antam ukuran 100 gram menguat menjadi Rp 62,2 juta dari harga kemarin Rp 61,8 juta per batang.

Emas Antam kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum, tidak hanya emas Antam. Harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda. Penguatan terjadi seiring dengan sentimen menghadapi pertemuan China-AS yang mempengaruhi persepsi investor global.

Kenaikan harga emas Antam itu terjadi ketika harga komoditas emas global relatif stagnan dengan koreksi tidak sampai 1 dolar yaitu menjadi 1.319,3 dolar AS per troy once dari 1.319,5 dolar AS per troy ounce. Meskipun stabil secara harian, harga emas global tersebut sudah melonjak 3,04 persen dari 1.280 dolar AS per troy ounce pada 24 Januari hingga 30 Januari 2019.

Di sisi lain, harga beli kembali (buyback) emas Antam juga naik menjadi Rp 597.000 dari sebelumnya Rp 591.000 pada periode yang sama. Harga itu dapat menunjukan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat ingin menjual kembali investasi tersebut.

You can share this post!

Comments