• Indonesia
Peran Brexit Dalam Melemahkan Rupiah
Keuangan

Peran Brexit Dalam Melemahkan Rupiah

Analis Binaartha Sekuritas memprediksi pergerakan rupiah terhadap dolar AS (Amerika Serikat) masih cenderung terdepresiasi untuk hari ini, Rabu (13/3). Menurutnya, sentimen negatif akan dipengaruhi dari faktor eksternal di mana voting parlemen Inggris terahdap kesepakatan Brexit beserta protokol tambahan diperkirakan akan ditolak.

Maka Inggris akan keluar dengan Uni Eropa tanpa pernjanjian jika hal tersebut terjadi. Ada pun Inggris menurut jadwal akan keluar dari Uni Eropa pada 29 Maret 2019. Selain itu, data inflasi AS yang diprediksi menguat akan memberikan katalis positif bagi dolar AS.

Secara teknikal, terlihat pola white opening bozu candle USDIDR Daily Chart yang mengindikasikan adanya potensi penguatan bagi dolar AS terhadap rupiah. "Khusus untuk range USDIDR hari Rabu adalah 14.175 sampai 14.450," temikian menurut risetnya.

Pelemahan rupiah dijadikan justifikasi oleh investor asing untuk terus keluar dari bursa saham Indonesia. Rupiah sempat melemah 0,11 persen di pasar spot ke level Rp 14.275 per dolar AS. Nasib rupiah senada dengan beberapa mata uang negara Asia lainnya yang juga loyo jika disandingkan dengan dolar AS. Won melemah 0,46 persen, ringgit 0,2 persen, dolar Singapura 0,05 persen dan yuan melemah 0,05 persen.

Kala rupiah melemah, apalagi secara signifikan, investor asing akan terdorong untuk melakukan aksi jual di pasar saham tanah air lantaran ada potensi kerugian kurs yang harus mereka tanggung. Dolar AS selaku safe haven memang sedang menjadi incaran investor pada hari ini, seiring dengan ketidakpastian proses perceraian Inggris dan Uni Eropa.

Pada hari ini, revisi proposal Brexit yang diajukan Perdana Menteri Inggris, Theresa May, ditolak oleh parlemen. Hanya terdapat 242 anggota parlemen yang mendukung proposal dari May. Sedangkan mayoritas atau 391 anggota parlemen menolak. Ini jelas merupakan pukulan telak bagi May karena pada pemungutan suara pertama yang digelar pada Januari, ia juga kalah dengan skor 432 melawan 202.

Dengan kembali ditolaknya proposal Brexit oleh parlemen, masa depan Inggris menadi tak pasti. No-Deal Brexit alias perpisahan Inggris-Uni Eropa tanpa kesepakatan kini menjadi risiko yang nyata. Hal tersebut bahkan diungkapkan langsung oleh Juru Bicara dari Presiden Dewan Eropa, Donad Tusk, yang mengatakan bahwa hasil pemungutan suara teranyar di Inggris telah menignkatkan risiko.

Yaitu keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun. Dirinya menambahkan bahwa Uni Eropa akan mempertimbangkan segala permintaan dari Inggris terkait dengan penundaan Brexit, namun diperlukan alasan yang kredibel untuk kemungkinan perpanjangan dan durasinya. Nilai tukar dolar Australia pun kembali melemah terhadap dolar AS.

You can share this post!

Comments