• Indonesia
Perbandingan Neraca Perdagangan Era SBY dengan Jokowi
Perdagangan

Perbandingan Neraca Perdagangan Era SBY dengan Jokowi

Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2017, mengalami surplus terbesar sejak 2012. Surplus neraca perdagangan mencapai 1,72 miliar dolar AS pada bulan tersebut. Terakhir kali neraca perdagangan memperoleh surplus terbesar yakni pada November 2011 dengan nilai sebesar 1,8 miliar dolar AS (Amerika Serikat).

Sebelumnya, diumumkan perbaikan kinerja ekspor Indonesia pada pertengahan 2017. Data ekspor Juli 2017, tercatat naik 16,8 persen dibanding bulan sebelumnya menjadi 13,6 miliar dolar AS.

Akan tetapi perdagangan Indonesia pada Juli 2017 masih mengalami defisist senilai 0,3 miliar dolar AS meskipun kinerja ekspor membaik. Kinerja ekspor Indonesia sebenarnya memang menunjukan tren yang meningkat sejak 2005 hingga 2011.

Saat nilai ekspor Indonesia mencapai 203,5 miliar dolar AS terjadi puncaknya pada 2011. Nilai ekspor Indonesia mengalami tren penurunan sejak itu. Begitu pula dengan nilai impor yang sempat mengalami tren kenaikan hingga mencapai puncaknya pada 2012 di angka 191,69 miliar dolar.

Nilai impor berada dalam tren yang menurun setelah itu. Hal yang patut dicermati adalah posisi neraca perdagangan dari data ekspor impor tersebut. Hasilnya dapat menunjukan kontribusi langsung dari aktivitas perdagangan bagi pendapatan nasional.

Neraca perdagangan Indonesia pernah menunjukan nilai negatif atau yang biasa disebut dengan defisit perdagangan sejak 2005 hingga 2016. Kejadian ini terjadi selama tiga tahun berturut-turut dari 2012 hingga 2014.

Defisit neraca perdagangan mencapai 1,66 miliar dolar AS pada 2012. Defisit perdagangan ini meningkat menjadi 2,2 miliar dolar AS pada 2014. Indonesia baru mencatat surplus perdagangan lagi pada 2015.

Defisit neraca perdagangan ini disebabkan oleh menurunnya nilai ekspor beberapa komoditas utama. Misalnya komoditas minyak dan gas hanya mampu mencapai angka 36,97 milar dolar Perbapada 2012.

Menurun sebanyak 4,5 miliar dolar AS dari tahun sebelumnya. Selain itu, melonjaknya nilai impor, khususnya untuk barang konsumsi dan bahan baku serta barang modal juga memberikan tekanan pada neraca perdagangan.

Neraca perdagangan berkontribusi positif pada PDB Indonesia sejak 2005 hingga 2011. Kontribusi sebesar 9,91 persen pada 2005 dan menurun menjadi 9,45 persen pada 2007. Kontribusi perdagangan semakin melemah pada 2008 menjadi 1,73 persen sehingga ini berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pada tahun tersebut, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 6 persen, menurun dari 2007 yang tercatat sebesar 6,3 persen. Dampak defisit neraca perdagangan pada pertumbuhan ekonomi juga semakin terasa pada 2012 hingga 2014.

Neraca perdagangan berkontribusi negatif sebesar -0,19 persen terhadap PDB pada 2012. Mengakibatkan pertumbuhan ekonomi pun turun menjadi 6,03 persen dari 6,17 persen pada 2011.

Di mana defisit neraca perdagangan masih terjadi pada dua tahun setelahnya, pertumbuhan ekonomi pun masih menunjukan perlambatan. Neraca perdagangan berkontribusi negatif 0,52 persen terhadap PDB dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang menurun menjadi 5,58 persen pada 2013.

You can share this post!

Comments