• Indonesia
Persiapan PT Astra Menerapkan Kebijakan B20 Sejak 2015
Berita

Persiapan PT Astra Menerapkan Kebijakan B20 Sejak 2015

PT Astra International Tbk (ASII) menyatakan, unit Toyota Astra Motor siap menerapkan kebijakan biodiesel 20 persen (B20) pada tahun ini. Perusahaan sudah melakukan uji coba sejak 2015 bersama dengan pemerintah untuk menerapkan B20. "Dari 2015, Toyota dan pemerintah trial test drive dengan B20," ujar Anton Jimmy, Kepala Divisi Pemasaran PT Toyota Astra Motor.

Ia juga menjelaskan uji coba yang dilakukan sejak tiga tahun lalu menghasilkan keputusan bahwa Astra melalui produk Toyota siap dengan kebijakan B20. "Hasil tes cukup baik, kami Toyota, produk siap penuhi standar dari B20. Ada bebreapa deviasi yang terjadi, tapi pada umumnya kami dari Toyota siap untuk B20," sambungnya.

Sementara itu, kebijakan lain dari pemerintah yakni terkait dengan mobil listrik sedang digodok peraturannya. "Emisi karbon rendah dari Kementerian Perindustrian sedang digodok dengan Kementerian Keuangan melalui BKF. Juga konsultasi dengan pemain automotif di asosiasi Gaikindo. Kalo selesai, arah kebijakan industri automotif Indonesia lebih jelas," pungkas Prijono Sugiarto, Direktur Utama ASII.

Pada tahun ini, lanjut dia, perseroan telah mengucurkan investasi ke perusahaan bidang fintech seperti operator transportasi berbasis aplikasi Go-Jek. Prijono juga mengatakan pihaknya optimis pada tahun ini, ASSI akan membukukan pertubumbuhan kinerja keuangan.

"Kinerja Grup Astra hingga akhir tahun 2018 diperkirakan ukup baik, didukung dengan stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia dan harga batu bara yang stabil, walaupun persaingan di pasar mobil dan melemahnya harga minyak kelapa sawit menjadi perhatian," katanya.

Tercatat, laba bersih ASSI pada semester pertama 2018 mencapai Rp 10,4 triliun, meningkat 11 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara pendapatan bersih ASSI selama periode itu meningkat 15 persen menjadi Rp 112,6 triliun dengan peningkatan pendapatan terutama dari bisnis alat berat dan pertambangan.

Pertambahan investasi ini seiring diselesaikannya proses akuisis tambang emas Martabe yang terletak di Tapanuli Selatan oleh entitas anak usaha, yaitu PT United Tractors Tbk. Dalam paparannya, dirinya juga menyampaikan sjeauh ini belum memiliki rencana investasi signifikan selain menunggu akuisisi tambang Martabe selesai.

Hal ini juga terutama disebabkan jasa keuangan Grup yang melebihi dari yang dapat diimbangi oleh pelemahan kontribusi dari kegiatan operasional agribisnis dan infrastruktur. "Arah ke sana (fintech) mungkin kita akan masuk karena kita punya financing yang kuat. Motor dan mobil bisa masuk ke sana menjadi hal yang penting. Tunggu waktunya kita pasti akan masuk ke fintech," terang Paulus Bambang Widjanarko, Direktur ASII.

Kendati demikian, Paulus menegaskan ASII tidak akan membuat pilar bisnis baru dalam bidang fintech. Sebab, hampir semua lini bisnis dalam grup ASII memiliki digital strategi masing-masing. Sama seperti Prijono yang mempertimbangkan ASII untuk masuk ke bisnis fintech adalah besarnya basis konsumen motor dan mobil sehingga menjadi modal utama perseoran untuk meengembangkannya.

You can share this post!

Comments