• Indonesia
Perundingan AS-China dan Pengaruhnya Terhadap Bursa Asia
Perdagangan

Perundingan AS-China dan Pengaruhnya Terhadap Bursa Asia

Bank Dunia (World Bank) memperdiksikan perekonomian global akan tumbuh melambat ke 2,9 persen di tahun ini dibandingkan 3 persen di 2018. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini, Selasa (12/2), dibuka menguat seiring pasar saham Asia yang positif.

IHSG dibuka menguat 8,05 poin atau 0,12 persen ke posisi 6.503,05. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 1,98 poin atau 0,19 persen menjadi 1.022,74. IHSG menguat di tengah kabar dari eksternal yang kurang menguntungkan.

Terkait perdagangan AS (Amerika Serikat) dan China, delegasi AS tiba di China pada kemarin, Senin (11/2), untuk melakukan perundingan dagang lanjutan. "Namun pasar saham Asia pada pembukaan perdagangan hari ini berhasil menguat. Sentimen ini diperkirakan bisa mendukung bagi IHSG untuk bergerak ke zona hijau pada perdagangan saham hari ini," ujar Alfiansyah, Kepala Riset Valbury Sekuritas.

Kedua negara bermaksud dapat mencapai kesepakatan dagang mengingat tenggat waktu berakhirnya gencatan senjata sudah semakin dekat, yakni 1 Maret 2019 mendatang. Bila kedua negara gagal menemukan kata sepakat, AS akan menaikkan bea impor terhadap berbagai produk China dari 10 persen menjadi 25 persen.

Sementara itu, kondisi pergerakan IHSG masih terlihat bergerak dalam rentang konsolidasi wajar sebelum kembali beranjak naik. "Peluang kenaikan masih terlihat sangat besar, mengingat kondisi saat ini masih berada pada awal tahun dengan para investor sedang memulai untuk berinvestasi," ujar William Surya Wijaya, Analis Indosurya Bersinar Sekuritas.

Hingga pukul 9.41 WIB, IHSG kembali berada di zona merah setelah dibuka menguat. IHSG melemah 8,72 poin (0,13 persen) ke posisi 6.486,29. Sementara itu, bursa regional di antaranya indeks Nikkei menguat 412,11 poin (2,03 persen) ke 20.745,28.

Hang Seng melemah 4,1 poin (0,01 persen) ke 28.139,74 dan Strait Times melemah 0,91 poin (0,03 persen) ke posisi 3.205,36. Sementara itu, mayoritas topi baseball di AS produk China. Menyusul perdagangan dengan China, produk tersebut tidak luput dari pungutan. Efeknya, topi buatan negeri Panda itu dibanderol 10 persen lebih mahal.

Kondisi itu memaksa CAP America, importir topi tersebut, memutar halauan. Saat ini, perushaan tengah mencoba memesan dari pemasok baru di Bangladesh. Para pemilik bisnis tengah menunggu perkembangna perundingan dagang antara AS dan China. "Penyesuaian harga telah dilakukan sejak Januari," tutur Phil Page, CEO Cap America.

Presiden AS, Donald Trump telah mengancam meningkatkan 10 persen tarif menjadi 25 persen kalau tidak mencapai kesepakatan. Berbeda dengan embargo harga minyak pada 1970, drama pertarungan dagang degnan China, sejauh ini tidak dipedulikan warga AS. Maklum, indeks harga konsumen pada Desember turun 0,1 persen. Pemerintah menyisiasati degnan menetapkan tarif impor tinggi pada barang produksi macam semi konduktor atau kulkas.

You can share this post!

Comments