• Indonesia
Perusahaan Masih Melihat Fluktuasi Harga Batu Bara
Berita

Perusahaan Masih Melihat Fluktuasi Harga Batu Bara

Bursa AS (Amerika Serikat) ditutup melemah pada perdagangan kemarin, Senin (17/12). Harga batu bara turun ke level 101.85 dolar AS per Mt. Crude oil turun ke level 49.51 dolar AS per barel. Harga batu bara cenderung fluktuatif mengekor pergerakan harga minyak, bahkan tahun depan, batu bara diprediksi belum mampu rebound.

Mengutip data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcoal untuk kontrak Juli 2019 bertengger di level 98.20 per ton pada Jumat (14/12). Pada bulan ini, batu bara sempat menyentuh level terendah 95,75 per ton. Sentimen tersebut menjadi tantangan yang akan dihadapi oleh perusahaan di tahun depan.

Dengan demikian perusahaannya akan terus mengoptimalkan kinerjanya dengan cara mencari komposisi harga yang terbaik. "Kami akan lihat fluktuasi harga batu bara dengan besarnya biaya produksi," kata Leonardus Herwindo, Head of Corporate Communication INDY (Mineral Investindo).

Menurutnya, untuk menghadapi fluktuasi harga batu bara, pihaknya akan tetap terbuka peluang di luar sektor tersebut. "Investasi ini merupakan langkah strategis INDY untuk melakukan diverfikasi usaha lainnya di luar sektor pertambangan di luar batu bara," kata Leonardus.

Misalnya saat ini melalui anak usahanya, INDY, mengakusisi tambang emas milik Nusantara Resources dengan nilai investasi 76,8 juta dolar Australia. Meski tahun depan tambang emas ini belum dapat berkontribusi, namun pihaknya optimis tambang emas akan positif untuk kinerja perusahaan ke depan.

Pihaknya belum dapat membeberkan berapa target kontribusi dari akuisis tambang emas ini. "Awak Mas memiliki cadangna ore 1,1 juta once dan sumber daya sebesar 2 juta once di Sulawesi Selatan. Proyek ini memiliki umur tambang yang panjang serta memiliki potensi eksplorasi yang cukup besar," ujar Leonardus.

Selain itu, meski saat ini harga batu bara sedang dalam tren fluktuatif, pihaknya tetap optimis kinerja hingga akhir tahun ini akan sesuai dengan target perusahaan. Pada tahun depan, perusahaan menargetkan produksi batu bara sebesar 34 juta ton, sama dengan target produksi pada tahun ini.

Hingga tahun depan, dinilai harga batu bara akan tertekan akibat sentimen global, yaitu China yang memangkas 75 persen impor batu bara. Hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja IND hingga kuartal I-2019. Dinilai diverfikasi tambang emas yang dilakukan oleh INDY adalah salah satu cara yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap thermal coal.

Di sisi lain, dinilai volatilitas harga batu bara tidak terlalu berdampak untuk kinerja INDY. Pasalnya, tambang batu bara sistemnya kontrak. "Umumnya perusahaan tambang sistem jualannya tidak seperti supermarket, cash and carry, tapi sistem kontrak sehingga volatilitas batu bara tidak signifikan harusnya," kata Valdy Kurniawan, analis Phintacro Sekuritas.

 

You can share this post!

Comments