Bisnis Properti Sepi, Saling Take Over Pengembang Terjadi

KPRMelemahnya kondisi perekonomian Indonesia belakangan ini berpengaruh terhadap iklim bisnis properti di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Akibat penurunan ekonomi ini, penjualan unit perumahan dari para pengembang yang tergabung dalam organisasi Real Estate Indonesia (REI) mengalami penurunan.

Akibatnya, sejumlah anggota REI memilih menjual unit mereka kepada pengembang lain yang notabene banyak yang berasal dari luar organisasi REI.

Salah satu pengurus REI Yogyakarta, Ilham Muhammad Nur mengakui pada triwulan pertama tahun ini tren penjualan perumahan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Dia mencatat, akibat perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini, transaksi penjualan properti anggota REI Yogyakarta mengalami penurunan setidaknya hingga 50%. Kondisi ini jelas memperburuk kinerja mereka yang juga bergantung pada suplai dana dari pihak ketiga.

“Kami sebagian besar membiaya proyek perumahan menggunakan modal pinjaman. Sehingga kami menanggung beban yang masih besar,” ujarnya, Senin (16/5/2016).

Beberapa skenario telah diterapkan anggota REI untuk mempertahankan operasional perusahaan mereka. Alternatif penyelamatan yang mereka lakukan di antaranya dengan menjual stok rumah mereka kepada pengembang lain atau dengan kata lain di-take over. Dia mencatat, setidaknya ada 20% anggota REI yang menjual stok rumah mereka ke pengembang lain yang berasal di luar keanggotaan REI.

Skenario lain yang dilakukan oleh anggota REI adalah dengan Joint Operation. Meski cara ini banyak dilakukan oleh anggota REI di luar DIY, tetapi skenario ini juga bisa menjadi alternatif menyelamatkan perusahaan. Melalui langkah ini, para pengembang yang masih memiliki stok menggandeng pihak lain yang memiliki modal cukup besar. Keuntungan yang diterima nanti secara otomatis akan dibagi sesuai dengan perjanjian awal.

Cara lain yang biasa ditempuh pengembang adalah dengan memperbesar portofoliao di bank. Hal ini terpaksa ditempuh meskipun risikonya membuat margin atau keuntungan pengembang akan semakin berkurang. Kendati keuntungan berkurang, tetapi pilihan pahit tersebut tetap dilakukan agar pengembang tidak banyak menanggung rugi akibat harga properti selalu naik dari tahun ke tahun.

“Tetapi di satu sisi itu keunggulan bisnis properti, karena bisa dipertahankan pada harga yang tinggi,”ujarnya.

Beberapa kebijakan memang masih menghambat laju perkembangan iklim bisnis properti. Kendati pemerintah sudah membuat kebijakan stimulus kepada pengembang, tetapi pada umumnya belum dilaksanakan di daerah.

Pengembang perlu stimulus untuk meningkatkan bisnis mereka di antaranya adalah dengan memberikan kemudahan perihal perizinan. Di samping itu, dia berharap kalangan perbankan juga menurunkan suku bunga seperti yang diinginkan oleh pemerintah.

Di sisi lain, pengembang perumahan di bawah Rp500 juta, Direktur Pengembang PT Panji Adi Properti, Sugiyatno mengaku justru mendapat dampak positif dari perlambatan ekonomi saat ini. Karena masyarakat lebih memilih membeli rumah di bawah harga Rp500 juta. Terbukti dia mampu menjual semua unit dari tiga lokasi perumahan yang dibangunnya.

“Karena ekonomi menurun, masyarakat cenderung memilih rumah dengan harga terjangkau,” ungkapnya.

(Red/Sindonews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *