• Indonesia
Rupiah Melemah, Investor Incar Surat Berharga AS
Berita

Rupiah Melemah, Investor Incar Surat Berharga AS

Kondisi ekonomi Indonesia pada beberapa waktu terakhir ini memang memprihatinkan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang saat ini mencapai angka 14.200 per dolar AS pada pertengahan Mei 2018 ini dan menjadi yang terlemah sejak Oktober 2015. Pelemahan Rupiah ini terjadi karena arus keluar dana asing dari instrument investasi di pasar keuangan domestik ke surat berharga AS yang membuat imbal hasil US treasury tenor 10 tahun naik di atas 3% sejak beberapa pekan lalu. Ini adalah indeks tertinggi dolar AS sejak November 2017 lalu.

Saat ini nilai tukar rupiah berada pada level 14.198 per dolar AS atau melemah 0,3% dibandingkan pekan lalu. Tak hanya Rupiah saja yang melemah, tapi juga mata uang beberapa negara di Asia seperti Won Korea Selatan yang paling menderita yaitu melemah 0,76%, menyusul Yen Jepang melemah 0,41%, Dolar Taiwan 0,23%, Peso Filipina 0,16%, Rupee India 0,11%, Ringgit Malaysia 0,1%, Baht Thailand 0,06%, serta Yuan Tiongkok 0,03%.

Mengantisipas hal ini Bank Indonesia telah menaikkan bunga acuan BI 7 Days Repo Rate pada pekan lalu sebesar 0,25%.  Namun tentu saja kebijakan ini belum bisa meredam para investor asing untuk menjual saham di pasar modal domestik. Terbukti dalam waktu sepekan para investor asing melakukan penjualan bersih saham sebesar Rp.3,63 triliun. Padahal di sisi lain yield surat berharga negara SBN Indonesia tenor 10 tahun naik ke level 7,31% pada pekan lalu.

Josua Pardede, Ekonom Bank Permata menilai BI akan kembali menaikkan BI 7 Days Repo Rate pada semester II tahun ini. Menurutnya kenaikan suku bunga BI tersebut akan dilakukan bila tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap AS ini terus berlanjut yang bisa jadi dipengaruhi oleh keputusan Fed pada Juni nanti dan ekspektasi terhadap suku bunga AS tersebut.

Dia juga menambahkan bahwa saat pengetatan kebijakan moneter BI saat ini, justru kebijakan fiscal bisa lebih ekspansif sehingga mampu mendorong pemulihan ekonomi secara khusus konsumsi rumah tangga dna investasi untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sementara itu Gubernur BI, Agus Martowardolo berpendapat bahwa ada dua faktor yang membuat rupiah belum bisa menguat.Faktor pertama yang membuat rupiah melemah adalah neraca perdagangan Indonesia pada April 2018 adalah US$ 1,63 miliar. Memang neraca perdagangan mengalami deficit, tapi total hingga bulan lalu masih mengalami surplus US$ 1 miliar. Hal ini terus dipantau dan ditindak. Faktor kedua yang memicu lemahnya perekonomian Indonesia adalah kasus terorisme yang beberapa waktu ini sempat mencuat dan membuat sentiment negatif bagi nilai tukar dan investor yag akan menyiapkan uangnya. Memang secara keseluruhan tidak berpengaruh pada stabilitas tapi berpengaruh karena terror terjadi secara beruntun dan cukup parah.

Jadi perbaikan ekonomi Amerika Serikat bisa melemahkan nilai tukar rupiah meski BI sudah menaikkan suku bunga acuan. Kita mengharapkan pemulihan ini bisa secepatnya karena jika dibiarkan terlalu lama akan mengganggu stabilitas dan kepercayaan public terhadap pemerintah saat ini dan berimbas semakin melemahnya kondisi ekonomi Indonesia. Meski begitu pelemahan Rupiah ini juga diikuti oleh negara-negara lain. Hal ini terjadi karena terjadinya perpindahan dana asing dari instrument investasi terutama pasar keuangan negara-negara berkembang ke surat berharga AS yang disebabkan oleh kenaikan imbal hasi US Treasury.

You can share this post!

Comments