• Indonesia
Selama Pandemi Transaksi Mencurigakan Naik 2000 Persen di Pasar Modal
Keuangan

Selama Pandemi Transaksi Mencurigakan Naik 2000 Persen di Pasar Modal

Skandal transaksi gelap seperti yang dilaporkan dalam dokumen FinCEN yang melibatkan sejumlah perbankan di Indonesia bukanlah hal yang baru. Diduga bahwa praktik transaksi gelap seperti itu terus berlangsung sampai saat ini.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengatakan bahwa transaksi gelap dalam sektor finansial, terutama pasar modal dan perbankan masih sangat rawan. Tingkat kerawanan ini naik berkali-kali lipat saat pandemi berlangsung.

Contohnya pada data transaksi keuangan mencurigakan pada bulan Juni 2020, jumlah persentase transaksi mencurigakan melalui perbankan naik hingga 626,7 persen year on year. Jumlah transaksi mencurigakan dari 15 laporan menjadi 107 laporan.

Kejadian serupa juga terjadi di pasar modal. Pada bulan Juni tahun lalu, lembaga intelijen negara tidak menemukan satupun transaksi mencurigakan di pasar modal. Namun, pada bulan Juni tahun 2020, PPATK sudah mengidentifikasi sebanyak 40 laporan transaksi mencurigakan di pasar modal.

Jumlah kenaikan transaksi di pasar modal semakin mencengangkan jika dibandingkan dengan data semester satu tahun 2019. Data PPATK mencatat secara kumulatif, kenaikan laporan transaksi keuangan mencurigakan pada semester satu tahun 2020 dari 10 laporan menjadi 219 laporan atau sebesar 2.090 persen.

Dian Ediana Rae Kepala PPATK sebelumnya pernah mengatakan bahwa secara keseluruhan laporan transaksi keuangan mencurigakan yang diterima pada bulan Juni naik sebanyak 1.094 laporan dari laporan bulan Mei sebanyak 2.265 laporan. Jumlah laporan transaksi keuangan mencurigakan menjadi 3.359 laporan atau naik sebesar 67,4 persen.

Namun, Dian menegaskan bahwa angka tersebut baru data statistik laporan transaksi yang mencurigakan, secara faktualnya data tersebut belum tentu semuanya menjadi kasus pidana. Kepala PPATK itu juga menyinggung terkait dokumen FinCEN yang diungkapkan oleh ICIJ, untuk melakukan analisis dan pemeriksaan, PPATK akan menggunakan segala informasi yang berasal dari mana saja yang terpercaya.

PPATK tidak bisa melakukan konfirmasi terhadap informasi seperti itu kepada publik. Namun, PPATK memastikan akan melakukan langkah-langkah yang harus dilakukan. Dian menerangkan bahwa produk laporan dari PPATK adalah laporan intelijen yang bersifat rahasia dan hanya digunakan untuk kepentingan penyidikan atau penyelidikan oleh aparat penegak hukum.

PPATK semakin meningkatkan kerja sama dengan lembaga intelijen keuangan negara lain untuk penelusuran aset dan menelusuri transaksi keuangan yang mencurigakan. Semua kerja sama PPATK dengan intelijen negara lain bersifat sangat rahasia sesuai dengan undang-undang yang berlaku dan praktik intelijen keuangan internasional.

Dalam bocoran laporan transaksi mencurigakan dari FinCEN menyebutkan ada 20 bank di Indonesia yang diduga ikut terlibat menjadi tempat lalu lintas transaksi mencurigakan. Dilaporkan sebanyak 496 transaksi yang menunjukkan transaksi keuangan mencurigakan mengalir ke Indonesia dan dari Indonesia senilai total US$04,66 juta atau senilai Rp7,46 triliun.

Terdata senilai US$218,50 juta masuk ke Indonesia dan senilai US$286,16 juta ditransfer dari Indonesia. Terdapat 19 bank di Indonesia yang diduga menjadi tempat lalu lintas transaksi mencurigakan, baik bank swasta maupun bank pemerintah. Ada dua nama bank pelat merah yang terlibat dalam transaksi janggal tersebut.

Nama-nama bank di Indonesia yang dilaporkan terlibat dalam transaksi mencurigakan dalam laporan FinCEN yaitu Bank Mandiri, Bank DBS Indonesia, Bank Central Asia, Hongkong Shanghai Banking Corp, Bank Windu Kentjana Internasional, Bank CIMB Niaga, Bank of India Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Nusantara Parahyangan, dan Panin Bank.

Selain itu, nama-nama bank lainnya yaitu Bank Danamon Indonesia, Bank OCBC NISP, Bank ICBC Indonesia, Bank Commonwealth, Bank UOB Indonesia, Bank Internasional Indonesia, Citibank NA, dan Standard Chartered Bank.

You can share this post!

Comments