• Indonesia
Sentimen-sentimen yang Membuat Wall Street Melemah
Berita

Sentimen-sentimen yang Membuat Wall Street Melemah

Bursa Australia dan Korea Selatan turun dalam pada sesi perdagangan awal pagi tadi, Jumat (19/10), mengikuti jejak pasar saham global lainnya. Index ASX 200 di Australia jatuh 0,61 persen ke posisi 5.905,9 sementara indeks Kospi di Korea Selatan anjlok 1,32 persen menjadi 2.120,02.

Sebelumnya, bursa Jepang juga mengawali sesi perdagangan hari Jumat di zona negatif. Indeks acuan Nikkei 225 terperosok 1,32 persen ke posisi 22.359,75. Sementara indeks Topix turun tajam 1,11 persen ke 1.685,71 di awal perdagangan.

Sentimen investor masih dipengaruhi berbagai isu global, seperti boikot beberapa pemimpin dan CEO dunia menyusul hilangnya wartawan Arab Saudi, isu Brexit dan anggaran Italia yang membuat bursa saham Amerika Serikat (AS) rontok dini hari tadi.

Dow Jones Industrial Average anjlok 1,27 persen menjadi 25.379,45, S&P 500 turun tajam 1,44 persen ke posisi 2.768,78 dan Nasdaq Composite terperosok 2,06 persen ke 7.485,14 pada penutupan perdagangan kemarin, Kamis (18/10).

Wall Street juga melemah setelah Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, membatalkan kunjungannya ke konferensi investasi di Arab Saudi setelah kasus seorang wartawan, Jamal Khashoggi, di konsulat negara Timur Tengah itu di Turki mencuat.

Investor cemas keputusan itu akan mempengaruhi investasi di Arab Saudi. Keputusan Mnuchin memicu kekhawatiran retaknya hubungan AS dengan Arab Saudi, terutama jika pemimpin Saudi terlibat dalam hilangnya Khashoggi. Jika Saudi kena sanksi, maka pasokan minyak akan semakin tertekan.

Sentimen ini menyebabkan investor kehilangan minat untuk masuk pasar. "Segera setelah kabar ini muncul, aksi jual membesar," kata Robert Pavlik, Chief Investment Strategist Slate Stone Wealth LLC, seperti dikutip dari Reuters.

Shanghai Composite anjlok 2,9 persen dan menyentuh posisi terlemahnya sejak November. Hal ini meningkatkan kecemasan bahwa negara dengan perekonomian terbesar kedua itu akan melambat dan ikut memengaruhi ekonomi global.

Beberapa di antara penyebab perlambatan itu adalah upaya pemerintah China menurunkan risiko pinjaman korporasi dalam negeri, usaha penyeimbang ekonomi dan perang dagang dengan AS. Kecemasan itu memuncak setelah Gubernur European Central Bank (ECB), Mario Draghi, mengatakan salah satu risiko bagi perekonomian Eropa adalah negara-negara yang mencoba melanggar aturan anggaran Uni Eropa (UE).

Komentar Draghi itu membuat yield surat utang Italia melonjak dan melemahkan bursa-bursa Eropa. Pemerintah Italia mengajukan anggaran 2019 dengan belanja negara yang naik 2,7 persen meskipun kesepakatan dengan UE menyatakan hanya boleh ada pertumbuhan 0,1 persen.

Italia juga menargetkan defisit di angka 0,6 persen dari produk domestik bruto (PDB). Investor dibuat cemas sebab Italia punya pengalaman terjerembab ke jurang krisis fiskal pada 2009 sampai 2010 yang menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan global.

Sentimen negatif yang membayangi bursa saham hingga akhir tahun, tentu saja masih perang dagang dan kenaikan suku bunga acuan AS. "Kedua hal ini masih menjadi penahan utama," kata Brendan Erne, Director of Portogolio Implementation Personal Capital.

You can share this post!

Comments